Kamis, 24 Desember 2015

Telepon Umum

13.00 wib
Dia tak dirumahnya.
Segera kularikan sepeda motorku ke kantor tempatnya bekerja. Sebisa mungkin menambah kecepatan, memanfaatkan  jalan-jalan pintas. Kubuang semua kemungkinan buruk yang mencoba hantui pikiran.
Tes
Ah, bahkan aku tak menyadari sejak kapan langit mendung mulai menemani. Dan kini satu persatu bulirnya telah membumi, hinggap di kemeja yang kupakai sejak pagi.
"Dia tidak masuk 3 hari terakhir ini" jelas temannya. Itu pula yang aku dapatkan dari beberapa orang kantor yang kutanya mengenai keberadaannya.
Dengan pikiran tak menentu, ku coba lagi menghubungi nomor yang telah memenuhi riwayat telpon ku sejak malam tadi.
"Nomor yang anda hubungi, sedang tidak aktif"
Arrrggghh!!
masih tidak aktif
Ku buka paksa dasi yang masih lekat di kerah kemeja. Seakan menambah sesak dada yang telah penuh dengan berbagai emosi jiwa.
Tes
Kali ini bukan bulir hujan, karena ia mengalir dari kelopak mata yang sempat menahan.
ya, memang salahku yang terlalu sibuk sebulan terakhir hingga tak menghiraukan apapun tentangnya, termasuk sakitnya. Dan tiga hari lalu memang puncak perdebatan kami yang tak kusangka berakibat seperti sekarang ini.
Hujan mulai deras. Seluruh pakaian yang membalut tubuhku pun kini telah basah. Namun aku tak terpikir kemana harus meneduh, yang masih tebenak hanyalah kemana aku harus terus  mencari.
Di tengah panik, getar ponsel disusul nada dering yang khas tertangkap indraku. Dengan spontan ku jawab panggilan nomor yang telah sangat kukenal.
Dia menelpon
"hallo? Inas, kau dimana? Kenapa sulit sekali dihubungi? aku sud ... "
"Hai" potongnya.
Aku tertegun. Mendengar suaranya saja membuat mulutku tercekat. Rinduku memuncak. Tangisku ingin meledak.
"Maaf tak memberi kabar dan membuatmu khawatir.. Aku hanya ingin menyelesaikan ini dengan baik."
Hening sejenak. Dari seberang sana terdengar berat napasnya. Aku menutup mata, dan kami terdiam beberapa saat.
"Kita jalani hidup kita masing masing, ya.." Lanjutnya, membuatku terperangah.
"Tapi, nas.."
"Sudah jelas ya ri"
"Nas, bisakah kita ber.."
"Semoga bahagia menyelimutimu"
Tut.. tut.. tut..
Kakiku melemas, Aku terduduk di halaman parkir, masih di gedung kantor yang sempat lebih sering ku jejaki untuk mengantar jemputnya setiap hari.
Hujan semakin deras, begitupula tangisku. Hujan yang biasanya selalu ku sukai, yang dengannya kami nikmati segelas kopi dan merangkai mimpi mimpi, kali ini jatuhnya di sekujur tubuh terasa sangat perih menyakiti.
Dengan pikiranku yang masih kacau tiba tiba terlintas, "ah, bukankah aku bahkan tak tahu senyum atau tangis yang menghiasi wajah ekspressif nya ketika mengucapkan kalimat terakhir itu?"
Ku raba saku ku untuk meraih ponsel dan kembali menelponnya. Tak ada. Dimana ponselku? Hei bahkan aku tak ingat apakah ia masih ku genggam erat ketika menelpon tadi.
Ku alihkan pandanganku ke sekitar,  tak butuh waktu lama untuk menemukannya. Disana, ponselku terendam genangan air hujan. rupanya ia ikut terjatuh dan kemudian terpental kesana.
Ah, tak bisa menyala. Ku lepas pasang baterenya dengan paksa, tak sabar membuatnya hidup dan segera menggunakannya. Tetap tidak bisa.
Otakku berpikir cepat. Teringat ada fasilitas telepon umum yang masih berfungsi di halte terdekat seberang sana. Akupun bergegas, tak ingin siakan detik yang berlalu dengan cepat.
"Semoga masih aktif" gumamku
Ku masukkan logam yang kumiliki, dan dengan penuh harap kutekan tombol dengan angka yang selalu ku ingat, bahkan telah kuhafal.
"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif"
Ku coba sekali lagi.
Berkali kali.
Tetap saja hanya jawaban operator yang  terdengar.
Dengan kesal kutampikkan gagang telepon, ingin ku berteriak, namun tertahan. Mencoba tenangkan diri dalam langkah lunglai dan memutuskan untuk pulang.
__________
18.30 wib
Hujan masih saja mengguyur ibu kota ini. Hadirnya membuat para bintang enggan keluar dari peraduannya untuk sekedar menampakkan secercah cahayanya.
Aku membuka berbagai media sosial yang sudah lama tak pernah ku lirik sama sekali. Pikirku, barangkali masih bisa menghubunginya dengan jejaring sosial yang tersedia saat ini.
Ratusan notification tak sabar meminta untuk dibuka. Sebagian besar darinya, ya perempuan yang inginku mempersuntingnya di tahun depan, namun kini enta dimana.
"Kau dimana"
"Sudah makan siang? Beritahu keberadaanmu dan aku akan kesana membawakan makanan"
"Kau dirumah? Kudengar kau sakit. akan kubawakan obat."
"Fakhri, dimana kau?"
Dan ratusan chat lain darinya yang menanyakan keberadaanku.
Aku terisak kembali.
Dulu, aku selalu disana. Di hatimu. Sekarang, masihkah?
-
If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
All those fairytales are full of shit
One more stupid love song i'll be sick
(Maroon 5, payphone)
Oleh : Nurul Inayah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar