Lo pernah mikir gimana proses panjang membesarkan lo? Yup, lo tadinya nggak punya kekuatan hero jenis apapun. Jangankan terbang jalan saja lo nggak bisa. Sampai, dengan sabar luar biasa ibu dan bapak lo mengajarkan lo cara berdiri, bangkit dan berjalan.
Awalnya lo merengek tiap terjatuh, tapi mereka seperti sekomplotan juru sorak di lapangan hijau meneriaki lo "kamu bisa, kamu pasti bisa" yup langkah pertama lo. Mereka tersenyum paling bahagia. Bukan cuma lo yang senang diatas segalanya mereka yang paling bahagia.
Lalu, perlahan waktu terus mengerus kebersamaan. Menciptakan jarak. Lo membuat benteng pembatas. Teritori wilayah. Lo mulai nggak sopan teriak-teriak dari minta handphone sampai minta motor. Lo mulai memunggungi mereka. Seolah lo bisa jalan sendirian tanpa bantuan siapapun.
Setelah itu, ketika waktu akhrirnya menghabisi kebersamaan kalian. Orangtua lo wafat misalnya, lo akan seperti kucing kampung yang pulang dengan bercak darah perkelahian. Pulang tanpa daya upaya, mengeong lemas di depan gerbang. Tangis lo, air mata lo dan semua omongkosong lo tentang kasih sayang akan musnah nggak bersisa. Orang yang selalu menanti lo hingga detik jam terasa samar karena di sergap kantuk, orang yang selalu melebarkan tangannya dan siap mendekap lo, orang yang bahkan kalau disuruh mati demi lo dia rela. Sungguh, itu dekat sekali dengan lo emak-bapak lo.
Tapi, lo menyianyiakannya bukan? Ada 3 hal yang tak pernah kembali waktu, kesempatan dan orang yang menyayangi lo. Gue nggak akan ceramah panjang lebar tentang berbaktilah pada orangtua, tapi gue cuma mau bilang waktu nggak pernah mau menanti lo tobat dan berbalik.
Terus saja pungungi mereka hingga kelak lo sadar yang lo pungungi sudah tak lagi bernyawa. Terus saja sibuk dalam rutinitas omongkosong hingga kelak lo pahami bahwa yang sesungguhnya jadi prioritas sudah tak lagi ada. Terus saja bicara omongkosong tentang cinta kesiapa lah hingga akhirnya lo tahu pasti yang paling mencintai lo tak lagi berdiri tegap. Ia sudah pergi bersama gundukan tanah dan jutaan hari yang lo sia-siakan.
Oleh : Dian Nurmala Ws
Tidak ada komentar:
Posting Komentar