/1/
Aku ingin menjadi jam,
di dinding kamarmu
yang menghitung senyummu,
dalam detakku.
Aku ingin menjadi detik,
di dalam hidupmu
yang kau pungut satu demi satu,
lalu kita jadikan sebuah karangan bunga.
-entah untuk mengantar kematianmu atau kematianku-
/2/
Entah karangan bungamu harus aku taruh di mana.
Liyangku telah sesak oleh doa dan tangismu.
Bunga kamboja telah berguguran,
seperti kenyataan yang menghilang pelan-pelan.
-sayang, aku tak bisa lagi menjagamu-
/3/
Sayang,
aku ingin mengutip sebuah syair untukmu;
"Yang fana adalah waktu, kita abadi."
Waktu tak abadi, ia berubah jadi perjalanan sebuah rindu. Terkadang ia lupa jalan pulang, karenanya kita menyebutnya sebagai kenangan.
Oleh : DTA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar