Kamis, 24 Desember 2015

Tak Mengapa, Dik

Terkadang apa yang membuat kau bahagia, belum tentu menjadi kebahagiaan orang lain
Begitu pun sesuatu yang kau anggap menarik, mungkin tak berarti bagi orang lain
Tak mengapa, Dik
Karena memang itu bukan apa apa
Masih ada aku yang selalu mencoba memandang lewat kacamatamu
Menjadi sedikit berbeda bukan hal yang bisa diterima semua orang sampai saat ini
Tak mengapa, Dik
Kita masih menghirup detik yang bersamaan
Bahkan dengan mereka juga
Hari itu
Mereka begitu menikmati siang yang benderang
Mungkin hanya kita yang menikmati korona penghias tipis akhiran senja
Apakah itu terlihat berbeda?
Tak usah peduli, Dik
Sejatinya mereka dan kita sama sama mengakrabkan mentari
Hari itu
Semua terasa begitu menghimpitmu
Jangan bersedih, Dik
Sesungguhnya kekecewaan, penolakan,  dan apapun yang kau risaukan
Semua orang akan melewatinya
Yang berbeda adalah waktu kedatangannya
Semua yang kau lewati
Semua yang kau temui sepanjang penelusuran ini
Akan jadi pelajaran
Ketahuilah, dunia ini tidaklah dihuni oleh satu warna
Bukan hanya tentang hijaunya taman atau birunya laut
Taman bukan apa apa tanpa warna warni bunga
Laut bukanlah apa apa tanpa warna warni ikan
Sesungguhnya orang yang mampu mengasingkan seseorang, ia hanya mampu melihat permukaannya saja
Ia hanya melihat hijaunya rumput dan birunya laut tanpa mempedulikan bunga dan ikan
Percayalah, Dik
Sekeliling yang pernah tak bersahabat akan menyambutmu di masa mendatang
Kemaslah cemasmu
Kita akan satukan asa yang bertujuan sama
Karena aku masih menjadi titik yang berbasis goresanmu
Dan yang lalu niscaya akan menemukan hal baru
Inspire from Somebody Out There_David Archuletta
Oleh : Anisa Hamasah

True Love

Saat aku tak lagi disisimu, ku tunggu kau di keabadian. .

Masih jelas di ingatanku betapa sejuknya aku membaca kisah indah cinta sejati Rasulullah dan Ibunda Siti Khodijah
Sungguh tak lekang oleh waktu.

Bersama Khodijah, ia ukir prasasti sejarah
Kenangan akan Khodijah selalu tersimpan di relung hati sucinya. Sungguh sangat menyesakkan dada.

"Ia beriman kepadaku ketika semua manusia ingkar. Ia membenarkanku ketika seluruh manusia mendustakan. Ia membantuku dengan hartanya ketika semua manusia menahan harta mereka. " (HR. Ahmad)

Begitulah Rasulullah mengenang Khodijah
Sungguh mempesona pertalian cinta karena Allah.
Perjalanannya atas dasar ketaatan kepada Allah
Bertemu karena Allah, Berpisahpun karena Allah.
Itulah cinta sejati

Meskipun maut telah memisahkan, cinta sejati akan tetap tinggal
Ia punya tempatnya tersendiri, tak akan terganti, terpatri indah di dalam hati. 
Karena cinta sejati percaya, 
tak ada penyatuan terindah selain bersatu di JannahNya.

Inspiring by
Cinta Sejati - BCL
Oleh : Tiarha Hurul 'Ain

Renov: Jangan Jatuh Cinta!

"Yank.. kita putus aja ya!" seru wanita   berambut ikal kecokelatan yg duduk tepat disampingku. wanita yg 6 bln terakhir ini kutitipkan hatiku padanya. wanita yang melekat di hatiku, terpatri di ingatanku, kapanpun dan dimanapun.
ya, dialah Selly kekasihku.
demi mndengar ucapannya, hatiku bagaikan dipukul palu godam.
"Yaelah, Yank.. ini bukan April Mop. dn aku jg lg nggak ultah. atau jangan-jangan kamu lagi ikut reality show yang ngerjain orang itu ya?" cecarku. "mana kameranya?" kulongokkan kepala ke kanan dan kiri mencari sebentuk benda bernama kamera yang kerapkali digunakan di syuting film.
Plak!
Itu bukan suara tanganku yang sering menepuk nyamuk. melainkan itu suara tangan wanitaku tercinta yang mendarat tepat di pipi kiriku. Aku terhenyak. Hening menyelimuti beberapa jenak sebelum akhirnya ia memekik, "Renov, mulai sekarang gue bukan lagi pacar lo! Lupakan angan-angan lo untuk nikahin gue yang cuma omong kosong!"
setelah itu ia berlalu. meninggalkanki yang masih terpaku. bungkam dengan tatapan kosong.
***
sudah seminggu belakangan ini aku lebih banyak menghabiskan waktu dirumah.
Seisi rumah gempar dengan perubahan sikapku. terlebih kakakku semata wayang, Bang Devon. hampir tiap hari ia mengetuk pintu kamarku untuk menanyakan bermacam hal.
Ya memang aku merasa terjadi. perubahan drastis dalam diriku. biasanya setiap kali putus dengan seorang wanita, aku akan dengan mudah melupakan.
namun untuk Selly, wanitaku yang satu ini tampaknya aku merasa sudah sangat jatuh cinta.
Bahkan aku sudah berniat menjadikannya istri di masa depan. kami sudah beberapa kali membicarakan ini. Tapi kenapa ia tega meninggalkanku?. Kulempar bantal dan gulingku. Aku marah atas apa yang terjadi padaku.
Kukenakan jaket dan celana panjangku. aku harus pergi menumpahkan amarahku. entah kemana.
Untung saja rumah sepi. aku bisa bebas pergi tanpa perlu repot izin.
"Nov, mau kemana kamu?!" seru sebuah suara tepat saat sebuah tangan menepuk pundakku.
aku menoleh. Aish! Dugaanku meleset. Rupanya kakakku ada dirumah.
"Pergi." jawabku singkat.
"Ya.silakan pergi. Asal sebelumnya kamu katakan apa yang terjadi padamu seminggu belakangan ini." Ujar Bang Devon. "Ayo duduk" ia gandeng tanganku ke sofa ruang tamu. seperti saat masa kecil kami,  ia menggandengku ketika dulu aku enggan pulang ke rumah karena keasyikan main. Dan sama pula saat belasan tahun.silam itu, aku menurut saja.
"Aku putus dengan Selly." suaraku tercekat.
"Apa alasannya?" tanya Bang Devon.
Dan kronologis kandasnya tali kasihku dengan Selly pun mengalir lancar dari mulutku.
Abangku itu menyimak saksama.
"Berhentilah jatuh cinta, Nov.." tukas Bang Devon membuatku menyipitkan mata keheranan.
"Maksud Abang?"
"Abang kan dari dulu sudah pernah.bilang.." ucapan Bang Devon menggantung di udara.
Ingatanku melayang ke dua tahun silam. pertama kalinya aku memulai petualanganku di ranah pacaran. terhitung sampai kini aku sudah.punya 10 mantan pacar.
Sejak dulu Bang Devon tak pernah secara langsung melarangku pacaran. tapi aku baru sadar itu semua tersirat dari gelagat dan tingkah lakunya, terwakilkan oleh ekspresi wajahnya dan tutur katanya.
Tetiba aku merasakan sebentuk perasaan haru. trenyuh. atau apalah itu namanya.  Kupeluk abangku itu.
"Bang.. Renov ingin berhenti jatuh cinta.. bimbing Renov untuk membangun cinta kepada Allah.. dan agar kelak Renov bisa membangun cinta dengan kekasih halal. Maafin Renov yang selama ini kurang peka. Dan bahkan pura-pura nggak peka." lirih diiringi isak suaraku.
Bang Devon balas memelukku.
"InsyaAllah kita berikhtiar bersama ya.." balas Bang Devon dengan suaranya yang tenang.    
Tak terperi rasa syukurku pada Allah, telah menitipkan seorang kakak yang tak hentinya mengingatkanku.
Allah.. izinkanku membangun cinta bersama-Mu.
Palingkanku dari gejoak cinta yang tak terpeluk oleh-Mu.
#Jangan Jatuh Cinta by Maidany
Oleh : Vana Pingkerz

Doraemon

Jakarta, di hari minggu
Sosok anak kecil setia menunggu di depan layar TV
Pukul 07.30 WIB
Serial kartun TV kesukaannya di putar
"Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ,ingin itu banyak sekali "
Anak kecil itu bernyanyi mengikuti lagu sambil menari - nari dengan antusias
Mengamati adegan demi adegan dengan mata berkeliap bintang
Pukul 08.00 WIB
Serial kartun nya habis
Anak kecil itu bergumam dalam hati : " Yah, kartun nya habis, padahal aku masih mau nonton ,masih mau melihat ada barang - barang apa di kantong ajaib itu "
----------
Malamnya
Semua adegan dia rekam dengan baik di dalam ingatannya
Berandai - andai "jika aku punya barang itu , aku apakan yah ?" Gumam anak kecil itu dalam hati
Mesin waktu
Setiap ada hal yang menyenangkan atau menyedihkan di hari itu ,anak kecil itu berlari menuju kalender di dinding kamarnya menuliskan di setiap tanggal nya :
Tanggal 17
" Hari ini harus ter ulang, karena aku mendapat uang jajan banyak dari ayah"
Tanggal 20
"Hari ini ayah menjemput ku di sekolah, mengajakku jalan - jalan hanya berdua saja, membelikan aku eskrim dan cokelat makanan kesukaan ku"
Tanggal 25
"Aku membuat ayah sedih, karena membuatnya terlambat ke kantor, aku merajuk sedari pagi karena ayah tidak menepati janji untuk pergi hari ini"
Tanggal 28
"Aku membuat ayah tidak tidur semalaman, karena perbuatan konyolku yang tidak mau makan, membuat aku terbangun semalaman membuat badan ku lemas dan perutku sakit, ayah bangun menyuapiku ,memijat badanku ,dan mengajakku mengobrol supaya aku tidak takut
--------
Baling - baling bambu
Aku ingin sekali punya baling - baling bambu ,aku bisa pergi ke tempat - tempat indah bersama ayah dan ibu mengajaknya bersenang - senang ,menghabiskan waktu bersama :)
Aku bisa meminjamkan kepada ayah, supaya ayah tak perlu cape bangun pagi sekali untuk naik kendaraan umum, ayah bisa sampe kantor dengan cepat tanpa harus merasakan macetnya jalanan, aku selalu sedih melihat lelahnya raut muka ayah bekerja tapi ayah selalu berusaha tersenyum dan membawakan makanan kecil untukku tiap pulang kantor
-----
Pintu kemana saja
Aku ingin punya pintu kemana saja
Aku bisa pergi ke sekolah tanpa harus jalan kaki
Aku bisa pergi ke kantor ayah,kalau aku sedang di marahi ibu
Aku bisa pergi ke sekolah kaka, kalau ada teman yang mengerjaiku
"Hoaamm" aku ngantuk
Besok harus sekolah pagi 
Oleh : Nurlela

Telepon Umum

13.00 wib
Dia tak dirumahnya.
Segera kularikan sepeda motorku ke kantor tempatnya bekerja. Sebisa mungkin menambah kecepatan, memanfaatkan  jalan-jalan pintas. Kubuang semua kemungkinan buruk yang mencoba hantui pikiran.
Tes
Ah, bahkan aku tak menyadari sejak kapan langit mendung mulai menemani. Dan kini satu persatu bulirnya telah membumi, hinggap di kemeja yang kupakai sejak pagi.
"Dia tidak masuk 3 hari terakhir ini" jelas temannya. Itu pula yang aku dapatkan dari beberapa orang kantor yang kutanya mengenai keberadaannya.
Dengan pikiran tak menentu, ku coba lagi menghubungi nomor yang telah memenuhi riwayat telpon ku sejak malam tadi.
"Nomor yang anda hubungi, sedang tidak aktif"
Arrrggghh!!
masih tidak aktif
Ku buka paksa dasi yang masih lekat di kerah kemeja. Seakan menambah sesak dada yang telah penuh dengan berbagai emosi jiwa.
Tes
Kali ini bukan bulir hujan, karena ia mengalir dari kelopak mata yang sempat menahan.
ya, memang salahku yang terlalu sibuk sebulan terakhir hingga tak menghiraukan apapun tentangnya, termasuk sakitnya. Dan tiga hari lalu memang puncak perdebatan kami yang tak kusangka berakibat seperti sekarang ini.
Hujan mulai deras. Seluruh pakaian yang membalut tubuhku pun kini telah basah. Namun aku tak terpikir kemana harus meneduh, yang masih tebenak hanyalah kemana aku harus terus  mencari.
Di tengah panik, getar ponsel disusul nada dering yang khas tertangkap indraku. Dengan spontan ku jawab panggilan nomor yang telah sangat kukenal.
Dia menelpon
"hallo? Inas, kau dimana? Kenapa sulit sekali dihubungi? aku sud ... "
"Hai" potongnya.
Aku tertegun. Mendengar suaranya saja membuat mulutku tercekat. Rinduku memuncak. Tangisku ingin meledak.
"Maaf tak memberi kabar dan membuatmu khawatir.. Aku hanya ingin menyelesaikan ini dengan baik."
Hening sejenak. Dari seberang sana terdengar berat napasnya. Aku menutup mata, dan kami terdiam beberapa saat.
"Kita jalani hidup kita masing masing, ya.." Lanjutnya, membuatku terperangah.
"Tapi, nas.."
"Sudah jelas ya ri"
"Nas, bisakah kita ber.."
"Semoga bahagia menyelimutimu"
Tut.. tut.. tut..
Kakiku melemas, Aku terduduk di halaman parkir, masih di gedung kantor yang sempat lebih sering ku jejaki untuk mengantar jemputnya setiap hari.
Hujan semakin deras, begitupula tangisku. Hujan yang biasanya selalu ku sukai, yang dengannya kami nikmati segelas kopi dan merangkai mimpi mimpi, kali ini jatuhnya di sekujur tubuh terasa sangat perih menyakiti.
Dengan pikiranku yang masih kacau tiba tiba terlintas, "ah, bukankah aku bahkan tak tahu senyum atau tangis yang menghiasi wajah ekspressif nya ketika mengucapkan kalimat terakhir itu?"
Ku raba saku ku untuk meraih ponsel dan kembali menelponnya. Tak ada. Dimana ponselku? Hei bahkan aku tak ingat apakah ia masih ku genggam erat ketika menelpon tadi.
Ku alihkan pandanganku ke sekitar,  tak butuh waktu lama untuk menemukannya. Disana, ponselku terendam genangan air hujan. rupanya ia ikut terjatuh dan kemudian terpental kesana.
Ah, tak bisa menyala. Ku lepas pasang baterenya dengan paksa, tak sabar membuatnya hidup dan segera menggunakannya. Tetap tidak bisa.
Otakku berpikir cepat. Teringat ada fasilitas telepon umum yang masih berfungsi di halte terdekat seberang sana. Akupun bergegas, tak ingin siakan detik yang berlalu dengan cepat.
"Semoga masih aktif" gumamku
Ku masukkan logam yang kumiliki, dan dengan penuh harap kutekan tombol dengan angka yang selalu ku ingat, bahkan telah kuhafal.
"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif"
Ku coba sekali lagi.
Berkali kali.
Tetap saja hanya jawaban operator yang  terdengar.
Dengan kesal kutampikkan gagang telepon, ingin ku berteriak, namun tertahan. Mencoba tenangkan diri dalam langkah lunglai dan memutuskan untuk pulang.
__________
18.30 wib
Hujan masih saja mengguyur ibu kota ini. Hadirnya membuat para bintang enggan keluar dari peraduannya untuk sekedar menampakkan secercah cahayanya.
Aku membuka berbagai media sosial yang sudah lama tak pernah ku lirik sama sekali. Pikirku, barangkali masih bisa menghubunginya dengan jejaring sosial yang tersedia saat ini.
Ratusan notification tak sabar meminta untuk dibuka. Sebagian besar darinya, ya perempuan yang inginku mempersuntingnya di tahun depan, namun kini enta dimana.
"Kau dimana"
"Sudah makan siang? Beritahu keberadaanmu dan aku akan kesana membawakan makanan"
"Kau dirumah? Kudengar kau sakit. akan kubawakan obat."
"Fakhri, dimana kau?"
Dan ratusan chat lain darinya yang menanyakan keberadaanku.
Aku terisak kembali.
Dulu, aku selalu disana. Di hatimu. Sekarang, masihkah?
-
If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
All those fairytales are full of shit
One more stupid love song i'll be sick
(Maroon 5, payphone)
Oleh : Nurul Inayah

Jauh Dimata Dekat Didoa

Detak jantungku membangunkanku dalam tahajudku
Aku bercerita tentangmu kepada Tuhanku
Entah mengapa aku selalu merasakan kehadiranmu dalam doaku
Kehadiran yang hingga kini mengganggu pikiranku

Tuhan jika waktu blm tepat jangan kau pertemukan aku dengan dia
Jika saat dipertemukan kita hanya berbuat dosa
Biarkan aku dan dia berjumpa via doa
Jika berjumpa bia doa membuat kita saling menjaga

Tuhan pertemukan aku dan dia diwaktu yg tepat
Diwaktu dimana kita sama-sama siap membangun cinta
Jika memang dia yang kau takdirkan untukku
Siapkan aku untuk menjadi sebaik-baik pendamping untuknya

Aku disini dan kau disana
Menunggunya dalam doa dan harapan
Meski kau kini jauh disana
Namun aku tetap setia menunggumu

Inspirasi lagu dari Ran - Jauh Dimata Dekat Dihati

Oleh : Wurry Aprianty

Aku Selalu Membenci Senyummu -khususnya di hari Senin-

"Baru datang? Telat lagi?"

Setiap kali aku bertemu dengannya khususnya di senin pagi, kata itulah yang selalu terucap. Dengan senyumnya ia selalu membuat pertanyaan retoris itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.07, dengan jaket dan ransel yang masih melekat, tentu saja aku baru datang dan aku terlambat.

Aku tidak pernah menanggapi pertanyaan yang menyamar menjadi pernyataan itu. Aku selalu berlalu, menuju lapangan upacara, sebelum guru piket yang terkenal tak ramah kepada anak-anak yang datang terlambat itu menghukumku lagi.

Entah, sudah hampir enam bulan aku satu kelas dengannya, pertanyaannya selalu sama setiap pagi. -Baru datang? Telat lagi?-. Padahal ia tahu, rumahku tidak dekat, aku butuh satu jam perjalanan menggunakan angkot -itu bila tidak macat- untuk sampai ke sekolah.

Satu lagi yang kubenci selain pertanyaan retorisnya, yaitu senyumnya. Baik, masalahnya seperti ini, ia adalah Rose, wanita yang menurut sebagian besar murid laki-laki di sekolahku adalah siswi tercantik. Hal ini yang menjadi masalah terbesar, bukannya aku ke-ge-er-an karena senyumnya itu. Tapi aku hanya ABG yang baru mencari jati diri.  Bisa runtuh perjuanganku selama dua tahun mencari jati diri di eskul ROHIS ini, bila setiap pagi senyummu yang selalu menyambutku.

-Bersambung

Aku Selalu Membenci Senyummu
-khususnya di hari Senin- II

Sebetulnya, aku ingin sekali menjelaskan, tentang kedatanganku ke sekolah yang suka terlambat. Pertanyaannya -Baru datang? Telat lagi?-  itu, membuat aku merasa terintimidasi. Ditambah lagi senyumnya, sungguh aku merasa menjadi seorang pesakitan yang sedang diintrograsi oleh reserse kelas atas. Pertanyaannya itu seakan menyiratkan pesan. Ehm, begini anak ROHIS toh, datang telat, pemalas, tidak on time.

Andai ia tahu perjuanganku untuk sampai ke sekolah. Mungkin ia akan berpikir beberapa kali untuk bertanya, -Baru datang? Telat lagi?-.

Kurasa saat ia masih tertidur, aku sudah sibuk dengan rutinitasku. Jam 04.15 pagi aku sudah harus bangun untuk melaksanakan sholat subuh, setelah itu aku harus merapihkan rumah, entah harus menyapu, mengepel, bahkan menjemur pakain. Belum lagi bila harus mengantri menggunakan kamar mandi dengan saudara-saudaraku, akan menghabiskan banyak waktu tentunya.

Ia pun tak akan tahu, perjalanan 20 menitku untuk sampai ke tempat mencari angkot. Ia pun tak akan tahu, perjalanan saat sudah di angkot, mulai dari angkot yang ngetem, macet saat melewati pasar, sampai bila harus berganti angkot karena mogok.

Terkadang aku ingin sekali menjelaskan semua itu kepadanya. Tapi, kupikir penjelaskanku pun tak ada artinya, aku sudah terlanjur dicap pesakitan dimatanya.

~~~

Malam itu, ia menelpon aku. Ibuku yang mengangkat telponnya. Ibu memberi tahu aku.

"Mas Arif, tadi ada telpon."

"Siapa bu?"

"Rose, katanya kamu disuruh telpon balik. Udah tiga kali nelpon tadi dia."

"Iya, bu. Nanti aku telpon balik."

Ehm, enak betul wanita itu. Ia yang butuh kenapa harus aku yang repot? Ah sudahlah, mungkin ini saatnya aku menjelaskan semuanya kepada reserse itu.

Aku pun menelponya, bukan bunyi tut...tut... yang menyapaku. Tapi ring back tone lagu dari Secondhand Serenade, yang berjudul Fall For You. Lama kunenanti jawabnya, mungkin sudah dua kali reff lagu ini kudengar.

"Because the night will be the night, that I will fall for you....."

Akhirnya ia mengangkat. Seperti seorang tersangka tak bersalah, aku pun sudah menyiapkan semua pembelaanku, bahwa aku tak seperti yang ia sangkakan.

"Halo.. assalamualaikum." Suaranya dari balik telpon.

"Walaikummussalam." Jawabku singkat padat dan meyakinkan.

"Rif, buku catatan Bahasa Indonesiaku, kebawa kamu?"

"Tidak."

"Oh. Makasih ya."

"Rose..."
tut...tut...tut...

Apa-apan ini, ia menutup telpon begitu saja. Padahal aku belum selesai bicara. Masih banyak hal yang ingin kujelaskan.

#JagaSenyummu
#FallForYou Secondhand Serenade

Oleh : DTA

Tik Tik Tik

Tik tik tik.
tetes demi tetes rintik hujan membasahi dahan, lantai, jendela, pagar rumah dibalik kelamnya malam ini,  udara dingin mulai merasuk rongga-rongga baju yang ku kenakan, sedikit menghela nafas aku masih melirik pot-pot bunga yang telah terbanjiri oleh air hujan tanaman yang tertanam didalamnya tampak merasakan kesegaran darinya,  seakan pemandangan dibalik jedela kamar ini adalah gambaran hati yang sedari kemarin medung. Ahh entahlah hingga sampai saat ini aku masih tak mampu untuk sekedar melupakan kepedihan yang menggores luka, yang tak henti memendungkan air dari balik kantung mata ini tiap kali aku mengingatnya. Luka yang aku besit sendiri dalam hati ini. Rasanga masih tak rela, tak terima dengan semua yang baru ku alami. Ingin sekali berontak, ingin tidur dan berharap bukan itu yang aku ingat, ingin ingin dan ingin, berharap semua itu hanyalah mimpi dan tak pernah terjadi. Tapi apa daya itu adalah kenyataan pahit yang meski aku terima. Nyatanya sampai detik ini aku masih belum ikhlas atas ujian yang baru saja hadapi ini. Siapa aku? apa aku berhak marah kepada-Nya? tidak, aku tidak pernah sanggup untuk melakukannya. Aku hanya kecewa,  ya kecewa dengan diriku sendiri. ya,  aku yang salah,  aku yang bersalah.
Cukup cukup jangan kompori aku dengan kekesalan dan kesedihan ini!!! yang mungkin tak ada habisnya. Lihatlah dari sisi yang berbeda, sisi yang seharusnya slalu kau tanamkan dua kata yang mesti kau lakukan dari hatimu, ya belajarlah dari tiap tetes air hujan yang kau lihat. Tentang makna ikhlas dan syukur. Hai kamu belum ikhlas fi! ya ya aku tahu ikhlas itu bagaikan semut hitam di sebuah batu hitam, ia ada tapi sukar sekali dilihat. Lalu apa akan slalu kau penuhi hatimu dengan ketidak ikhlasan yang semakin harinya semakin menyakitkan? apa kau ingin menggerutu dan menangisi slalu hal itu? lets move on honey,  seperti halnya mendung dan hujan yang tergantikan oleh cerahnya mentari, belajarlah darinya dari ciptaan Tuhan semesta Alam. Allah lebih tahu dari apa yang kau tahu yang terbaik untukmu. Siap untuk ikhlas? kalau kamu siap ayo tarik nafas dan kembangkan senyummu selebar mungkin lanjutkan aktivitasmu dan kerahkan segala usahamu untuk terus maju. Lalu sekarang sudahkah kamu bersyukur? yang harius kamu tahu bahwa Allah Maha baik tidak pernah menguji hambanya diluar kemampuannya. Dan ujian yang baru kamu hadapi adalah tanda kasih sayangnya bahwa kamu mampu melaluinya, bahwa inilah yang terbaik, maka bersyukurlah seperti halnya syukurmu karna Allah telah memberikan segala rahmatnya dan kebahagiaan dalam hidupmu di pertemukan dengan orang-orang baik dan sayang padamu juga dipertemukan dengan berbagai masalah dan ujian. Karena Allah tahu kamu mampu melewatinya,  masih ingat dengan salah satu ayat Al qur'an Inna Maal Usri Yusro. Ahh kamu pasti sudah pernah mempelajari tentang makna yang medalam dalam ayat tersebut ketika kamu belajar tafsir bayan. Ah lihatlah hujanpun telah terhenti. Itu artinya hujan hatimu pun harus terhenti. Seketika aku tersenyum mendengar pergulatan batinku. Alhamdulillah Allah masih memberikanku ujian. Kuatkan aku Ya Rabb,  jadikan aku salah satu hambamu yang ikhlas dan bersyukur atas tiap ujian yang kau beri. Tiba-tiba perut ini berbunyi,  aywah aku segera bergegad meninggalkan kamarku,  dan menghampiti ibuku yang sedari tadi berkoar-koar mengajakku untuk segera makan.

inspired from cerminan kasihMu song by; Fibel (Ashfi dan Bella)
#SyukurtiadaHenti
#janganlupabersyukur
#inspiringjourney

Oleh : Huliyyatul Ashfia

Mencintainya Malu-malu

Aku sangat mencintai seseorang. Aku tidak pernah bilang cinta kepadanya. Tapi aku tahu kalau dia sangat mencintaiku dan aku pun juga merasakan hal yang sama.
Bahkan, aku merasa jika rasa sayangnya kepadaku jauh lebih besar daripada rasa sayang aku kepadanya. Tapi aku sering sekali mengecewakannya. Dia seringkali sedih, kecewa, dan marah atas apa yang telah aku perbuat. Dia tidak pernah sekalipun berkata,”kamu sangat mengecewakan.” Iya, dia selalu memberikan semangat dalam kondisi apapun.
Dia orang yang teramat memahamiku. Dia tahu benar bagaimana caranya mencintaiku dalam porsi yang pas tidak pernah kurang kadang seringkali berlebih.
Tapi, aku seringkali kesal terhadapnya. Karena aku merasa kalau dia terlalu banyak memberi aturan dan aku harus menuruti aturannya. Lama kelamaan aku pun mengerti. Dia melakukan ini semua karena dia sayang kepadaku dan ingin agar aku tidak jatuh dan terpuruk.
Dia tak pernah meminta apapun dariku. Dia hanya ingin agar aku bahagia. Begitu besar rasa cintanya membuat aku kadang sulit untuk mengerti betapa luar biasa ketulusan hatinya. Aku semakin sadar bahwa diriku sama sekali belum dapat membalas cintanya dengan sebanding.
Aku belum belum dapat mencintainya dengan tulus seperti dia mencintaiku selama ini. Mengapa aku bisa mencintainya adalah pertanyaan yang tidak sebanding dengan pertanyaan,”mengapa dia bisa begitu mencintaiku yang tidak pernah memberikan apa-apa?.”
Siapakah orang yang aku ceritakan tadi? Dia adalah mama. Mama mencintai aku karena aku adalah anak mama. Mama yang berhasil membesarkan aku. Mama yang sangat berarti dan paling penting dalam hidupku. Mama, aku mencintaimu.

Tulisan ini terinspirasi dari lagu Maher Zain – Number One For Me

Oleh : Dendy Harmadi

Ingatan Ketika Itu

Ketika kamu bahagia kamu menyukai iramanya, ketika kamu sedih kamu memahami liriknya. Barangkali ya. Tiga tahun berlalu, lagu yang sama yang selalu jadi peneman matahari terbit hingga terbenam di ruang kerja Sony. Sony tak benar-benar menyukai iramanya tapi liriknya.

Barangkali ya, tidak semua luka bisa dihapus oleh waktu seperti tidak semua rasa sakit harus dituntaskan dengan rokok atau minuman keras. Sony tahu, bahkan sejak tiga tahun lalu tak ada lagi yang sama buatnya. Hari-harinya hanya sebatas sarapan pagi di rumah, berangkat pagi-pagi ke kantor dan pulang larut.

Sony tahu semua demi membunuh rasa sakit yang satu dua kali menikam tajam, menelikung segalanya. Apalagi, semenjak facebook ikut-ikutan mengingatkan memori itu. Memori yang kalau saja Sony boleh meminta agar tak pernah terekam dalam otaknya.

🐛🐛🐛

Namanya Sekar, teman kanak-kanak hingga beranjak dewasa bersama. Sekar yang naif. Jika, dua orang baik-baik saja setelah berpisah barangkali tak pernah ada cinta diantara keduanya atau masih ada cinta. Sekar yang lugu, yang bilang baik-baik saja meski matanya sembab. Ini bukan salah Sekar, bukan salah siapapun. Ini salah Sony. Si brengsek dan idiot yang menyakiti banyak orang.

Sekar yang menemaninya hingga tiba di puncak. Melengkapi pemandangan indah yang selalu ingin Sony lihat. Sekar yang selalu bilang bahwa Sony bisa melakukan lebih baik lebih banyak. Sekar yang selalu menuntutnya hingga seluruh tenaga ia kerahkan. Sekarnya.

Siang itu, Sony merasakan bahwa neuronnya mulai rusak. Berjalan sendirian di Senayan City tiba-tiba saja membuatnya mengingat tentang Sekar.

Dunia seolah dingin padanya, dunia seperti mengucilkannya. Jika saja boleh jijik maka Sony teramat jijik pada dirinya. Si pendosa nomor satu, setelah seluruh kebaikan sekar.

Ia mencampakkan wanitanya. Hanya karena ambisinya. Hanya demi keturunan yang selalu saja disebut-sebut dalam doanya dan tak kuasa Sekar berikan ke dunia. Ia benci nasibnya, benci dirinya.

Tiga tahun yang panjang dengan banyak luka disekujur tubuh. Sony berusaha tak pernah balik badan bukan karena tak ingin tapi tak kuasa melawan segalanya. Melawan mata sembab ibu dan bapak Sekar saat ia menceraikan Sekar. Melawan mata tajam ibu dan bapaknya karena ia menceraikan Sekar.

Sony memutuskan seluruhnya hubungan dengan siapapun yang berkaitan dengan Sekar. Karena Sekar tak boleh kembali kepada pecundang sepertinya.

Lalu lirik lagu itu hari ini dan setelah tiga tahun selalu saja menggenapi sepinya. Apakah ia harus kembali dan berlari lagi ke wanitanya, apakah maafnya akan menghapus seluruh kekejaman kata-kata yang terlanjur ia ucapkan? Apakah mereka bisa sama lagi?

Sony membuang semua pikiran itu. Tidak, tidak ada yang pernah sama karena rasa sakit akan mengubah Sekarnya.

~ and I remember all those crazy things you said you left them running through my head you're always there, you're everywhere but right now I wish you were here.~ (Avril Lavigne i wish you were here)

🐚🐚🐚

Tidak ada yang baik-baik saja , bahkan setelah hari-hari berlalu. Tidak ada yang pernah sama bahkan setelah semuanya selesai. Siang itu, waktu Sony bilang kalau kami harus bercerai. Saya tidak ingin mengiyakan, bukan karena ketamakan saya tapi karena mungkin saja Sony sedang lupa tentang hari-hari berat yang kita lalui bersama. Tentang masa-masa sulit milik kami.

Tapi, kesadaran itu menerabas masuk. Saya selalu bertanya dalam tiap sujud malam saya, Tuhan kurang saya hanya tidak bisa memberi keturunan. Lantas kalau saya tidak bisa mengelak ketentuanmu tak perduli pil pahit sebanyak apa yang saya telan, apakah saya boleh dianggap bukan makhluk hidup? Karena kata Sony ciri makhluk hidup itu melahirkan dan saya bahkan hingga ribuan tahun tak akan pernah bisa melahirkan.

Saya perempuan dan saya tidak akan pernah menjadi seutuhnya perempuan. Dulu saya kira, saya perempuan paling beruntung mendapatkan Sony yang baik. Saya keliru Sony yang tidak pernah beruntung mendapatkan saya.

Saya boleh marahkan Tuhan? Marah pada tatapan sinis orang-orang karena saya janda. Kalau saja boleh memilih saya tidak ingin menyandang gelar ini. Tapi, buat apa dilanjutkan kalau salah satu pihak keberatan. Saya boleh bencikan Tuhan? Benci pada kalimat-kalimat menyalahkan. Siapa sih yang mau terlahir tidak sempurna. Maksudnya begini, saya memang lengkap secara fisik bukan disable tetapi kenyataannya rahim saya yang tak lengkap. Rahim saya yang cuma sekedar pelengkap tak akan pernah disinggahi fetus/janin.

"Kita tetap bisa berteman, kamu tetap boleh mampir kerumah saya. Bertemu ibu dan bapak. Mereka pasti mengerti keputusan mas." Ucap saya tiga tahun lalu dengan suara parau, berusaha sekuat tenaga menahan tangis.
"nggak setelahnya kita nggak bisa bertemu. Saya akan mulai hidup baru. Saya akan punya istri dan anak-anak mereka akan terganggu kalau saya masih berhubungan sama kamu."

Jawaban Sony yang dingin telak menghantam hati saya. Saya pikir semua orang boleh saja melabeli saya "mandul" selama Sony tetap disisi dan menguatkan, saya tak perduli. Biarlah kami menua begini. Sony saja cukup. Tapi, benteng terakhir saya justru ikut serta menyoraki kekurangan saya. 7 tahun kami menikah dan Sony pasti memang sudah tak sanggup membuang waktu dengan perempuan mandul.

Tiga tahun berlalu. Ada orang-orang yang hanya berhak hadir dihidup kita tidak menetap. Barangkali Sony salah satunya.

Diiringi lagu dari playlist handphonenya Sekar melangkah keluar dari Senayan City. Ini kali terakhir Sekar mengingat tempat dimana Sony melamarnya. Kali terakhir Sekar berjalan masuk ke labirin yang sama. Sekar sudah terlalu lelah, ia berjanji tak akan kembali ke tempat yang sama, ia akan keluar dari labirin ini. Apa Sekar marah terhadap Sony? Tentu saja, setelah semuanya berakhir dan ia tak menuntut apapun, tapi Sony dengan tega bilang bahwa Sekar mungkin saja merusak keluarga baru Sony. Tapi hari ini, sekar  memutuskan untuk memaafkan Sony memaafkan dirinya yang tak akan pernah sempurna. Sony berhak bahagia dengan seorang perempuan yang bisa memberinya keturunan bahkan kultur sosial sakit jiwa ini mendukung Sony dan menyalahkan Sekar. Apalagi yang bisa si perempuan mandul perbuat?

Menikah lagi, Sekar membenci institusi omongkosong itu. Bukan karena ia telah dikecewakan tapi karena institusi itu tidak melindunginya dari kemungkinan menyakitkan seperti pemberian dua label sekaligus "janda menyedihkan yang diceraikan karena mandul"

That was then, now it's the end
I'm not coming back, i can't pretend remember when.

(Avril Lavigne ~remember when)

Oleh : Dian Nurmala Ws

Sebiru Persahabatan Kita

Kebersamaan di surga itu puncak dari persahabatan kita, tak apa-apa tak sering jumpa di dunia, jika surga Allah jadikan tempat abadi bagi kita untuk bersua

Tak selamanya kebersamaan dalam ruang dan waktu di dunia ini kan kita nikmati bersama, bisa saja aku di Barat kalian di timur, tapi Allah jadikan tali keimanan, kesamaan tujuan, kecintaan kepadaNya sebagai pengikat persahabatan kita

Perpisahan terkadang menjadi bumbu dalam persahabatan, sedih memang tapi lebih sedih lagi jika kita tak jumpa di SurgaNya

Persahabatan itu menenangkan, "jangan bersedih, sungguh Allah bersama kita" ucap Sang Nabi kepada abu bakar Sahabat tercintanya

Persahabatan itu menguatkan, menenangkan, mengokohkan, mensurgakan

Teruntuk sahabatku dimana pun kalian berada

Sebiru hari ini
Sebiru persahabatan kita
Seindah pertemuan kita di surga

Oleh : Ahmad Zulfikar

Senin, 14 Desember 2015

Hidup Itu Eliminasi - Substitusi

Ya, hidup itu mengeliminasi ingatan akan keburukan yg dilakukan saudara mu terhadap mu, dan mensubtitusikan ingatan akan  kebaikan saudara mu terhadap mu. Sampai-sampai tak tersisa lagi ruang di hati dan pikiran mu, untuk menyimpan memori keburukan yg dilakukan saudara mu terhadap mu.

Ya, hidup itu eliminasi ~ subtitusi, terlebih di jalan dakwah ini. Jika kita tidak bergerak dan menyatakan diri untuk berhenti berjuang maka siap - siap saja Sang Maha pemberi amanah ini akan mengeliminasi kita dalam barisan ini dan akan mensubtitusikan hamba-hambaNya yg lain untuk menggantikan posisi kita.

Ingat! Allah tidak akan pernah habis memiliki hamba-hambaNya yg siap untuk memperjuangkan agamaNya. Beruntunglah bagi siapa saja yg mendapatkan amanah yg teramat mulia ini. Jika amanah ini masih berada di pundak kita maka perjuangkanlah. Jika tidak, siap - siap saja amanah ini akan Allah lepaskan dari pundak - pundak kita.

Bergerak atau tergantikan.

Oleh : Ahmad Zulfikar

Minggu, 13 Desember 2015

Matematika

Sahabat...
Kita adalah sebuah lingkaran tanpa akhir...
Sahabat...
Kita adalah elemen yang berkumpul dalam suatu himpunan baris...

Sahabat..
kita bagaikan sebuah kubus yang membentuk garis siku - siku...
Saling menopang dan menguatkan di setiap sisi - sisinya...

Semoga umur persahabatan kita bagaikan bilangan asli tak terhingga ribuan bahkan jutaan tahun lamanya

Oleh : Nurlela

Berbagi

"Meskipun dirimu dalam keadaan sulit sekalipun tetapi kau harus tetap memiliki 1001 cara untuk berbagi hal yang positif dengan orang lain."

Tak sengaja kubuka buku catatan lamaku, kutemukan kalimat itu. Disana tertulis tanggal 27 november 2010. Ya, sudah hampir 5 tahun yang lalu kalimat itu tertulis di buku catatanku. Kalimat dari seseorang yang mempunyai pengaruh yang baik di dalam kehidupanku. Kalimatnya yang sangat menggetarkan hati.
Kalimat itu datang dari morobiyah pertamaku.

Berbagi, kata yang mudah diucapkan namun terkadang sulit untuk dilakukan.
Berbagi bukan hanya milik mereka yang berharta melimpah bukan pula hanya milik mereka yang berkedudukan tinggi.
Berbagi adalah milik kita semua makhluk Allah.
Jangan khawatir jika kau tidak memiliki harta melimpah karena sesungguhnya Allah Maha Kaya. .
Bukankah kau masih bisa berbagi dengan tenagamu ? berbagi dengan ilmumu ? berbagi dengan perhatian dan kasih sayangmu ? bahkan berbagi senyuman dengan wajah berseri di kala perjumpaanmu dengan saudaramupun dapat menjadi hal yang membahagiakan. 
Berbagilah hal yang positif dengan apa yang Allah karuniakan pada dirimu. .
Karena sesungguhnya masih banyak orang yang tidak lebih beruntung darimu. . Ketahuilah, jika kau merasa hidupmu sedang sulit, masih ada orang diluar sana yang jauh lebih sulit darimu. .

Maka, jangan sampai kesulitan dan keterbatasanmu menghalangimu untuk berbagi dengan saudaramu. Karena rasa syukur akan kau temukan di kala engkau berbagi.

Sungguh Allah lah yang paling memahami kapasitas diri setiap hambaNya. . Semoga kita terhindar dari rasa putus asa terhadap rahmat Allah. .

Oleh : Tiarha Hurul 'Ain

Berbagi

"Meskipun dirimu dalam keadaan sulit sekalipun tetapi kau harus tetap memiliki 1001 cara untuk berbagi hal yang positif dengan orang lain."

Tak sengaja kubuka buku catatan lamaku, kutemukan kalimat itu. Disana tertulis tanggal 27 november 2010. Ya, sudah hampir 5 tahun yang lalu kalimat itu tertulis di buku catatanku. Kalimat dari seseorang yang mempunyai pengaruh yang baik di dalam kehidupanku. Kalimatnya yang sangat menggetarkan hati.
Kalimat itu datang dari morobiyah pertamaku.

Berbagi, kata yang mudah diucapkan namun terkadang sulit untuk dilakukan.
Berbagi bukan hanya milik mereka yang berharta melimpah bukan pula hanya milik mereka yang berkedudukan tinggi.
Berbagi adalah milik kita semua makhluk Allah.
Jangan khawatir jika kau tidak memiliki harta melimpah karena sesungguhnya Allah Maha Kaya. .
Bukankah kau masih bisa berbagi dengan tenagamu ? berbagi dengan ilmumu ? berbagi dengan perhatian dan kasih sayangmu ? bahkan berbagi senyuman dengan wajah berseri di kala perjumpaanmu dengan saudaramupun dapat menjadi hal yang membahagiakan. 
Berbagilah hal yang positif dengan apa yang Allah karuniakan pada dirimu. .
Karena sesungguhnya masih banyak orang yang tidak lebih beruntung darimu. . Ketahuilah, jika kau merasa hidupmu sedang sulit, masih ada orang diluar sana yang jauh lebih sulit darimu. .

Maka, jangan sampai kesulitan dan keterbatasanmu menghalangimu untuk berbagi dengan saudaramu. Karena rasa syukur akan kau temukan di kala engkau berbagi.

Sungguh Allah lah yang paling memahami kapasitas diri setiap hambaNya. . Semoga kita terhindar dari rasa putus asa terhadap rahmat Allah. .

Oleh : Tiarha Hurul 'Ain

Rumah

Ia menelungkupkan jari-jemarinya, merapatkan lagi jaket tipis berbahan wol itu, udara dingin kian merasuk diantara sisa-sisa gerimis diluar sana. sesekali ia melirik beberapa penumpang yang tampak kelelahan,  malam ditemani gemercik air hujan ini mereka masih berjibaku dalam perjalanan padahal waktu sudah menunjukkan jam 21.00, seseorang tampak menahan kantuk, pasti ia sangat lelah setelah seharian ini bekerja, dan wajah-wajah lelah itu akan mengembang senyum tatkala sampai pada sebuah tempat tujuan mereka,  tempar ternyaman yang penuh dengan rindu setiap kali akan meninggalkannya meski sekedar pergi ke kampus,  kantor atau sekolah,  tapi tempat itulah yang slalu menjadi tempat perempuan berjaket tipis dan para penumpang itu untuk kembali, tempat yang penuh dengan kasih sayang dan rindu oleh penghuninya meski dalam keadaan gerimis seperti ini beberapa atapnya bocor,  atau cat yang mulai pudar dan mengelupas tetap saja itu adalah tempat yang dirindukan. Perempuan dengan jaket tipis berbahan wol itu menatap layar hapenya salah seorang menelponya, tertulis nama seorang yang tak asing "my mom", ah ummi slalu ummi dan orang rumah yang khawatir jika ia belum jua pulang hingga malam seperti ini. kerinduannya pun makin menjadi-jadi untuk segera sampai ditempat yang penuh kehagatan keluarga. rumah.

Sajak Rindu

Aku duduk sendiri saja
       di bawah pohon jambu yang gugur bunganya; indah sekali
        -seperti dirimu yang selalu tersenyum dalam doaku.-

Aku duduk sendiri saja
         membayangkan kita adalah sebuah sungai; kau hulu dan aku hilir.
          Lalu jarak yang memisahkan, namun arus rindu selalu menyelamatkan.

Kualah mata air air mata rinduku, melayarkan perahu kertas dari hulu sampai ke hilir sungai itu.

Aku duduk sendiri saja
        membaca pesan perahu kertasmu. Di bawah pohon jambu yang gugur bunganya.

Oleh : DTA

Negeri

Gemas dengan topeng terserak dibalik meja meja petinggi negri
Isu tak sedap memberi sesak pada rongga telinga rakyat
Raiblah hormat terganti hujat
Resah menadi disegala lini

Tapak lemah jari jari payah
Mendapat hampa dari puluhan tikus dusta
Beralih harap pada bibit pelurus bangsa
Tuk semai jaya di tanah basah indonesia

Asa mengangkasa
Tekad mengakar kuat
Doa ditabur
Ilmu disadur

Indonesia, nantikan emas ditangan kami para pemuda

Oleh : Nurul Inayah

Seiring Musim

Ketika kumulus luruh di kotamu

Menjatuhkan lembut ribuan harapan yang tak kan mampu kau hitung

Kuharap itu sampai padamu
Meski kau tengah berteduh

Ketika sirus tegak lurus dengan sungaimu
Angin tak lelah untuk datang
Membuat riak air yang mencipta gemercik sendu

Ketika kau membawa semua detik yang sejenak terhenti

Kau tetap berlari pergi bersama hari

Tahukah kau
Waktu tetap tak menentang takdirnya

Kemarau lalu telah berganti menjadi musim baru

Selamat datang gerimis
Selamat datang petrichor
Biarlah, puisi ini terangkum menjadi semesta doa

Biarlah, musimku tetap seiring dengan musimmu

Oleh : Anisa Hamasah

Alien Minta Pulang

Gue sebenernya ga mau nyeritain ini. Tapi cerita aja lah ya buat pembelajaran bagi kita. Berawal dari facebook baruku. Ehh salah salah. Berawal saat gue main ke kosan kaka kelas. Pas sampe sana gue liat dia lagi ngupasin jengkol. Gue basa-basi padahal udah tau itu jengkol,”ka ngupas apaan ka?.” Dia menjawab,”lagi ngupas jengkol nih buat makan. Makan jengkol juga ga den? Kalo mau kita makan bareng." Dapet tawaran gitu hati gue berkecamuk. Antara menerima ajakannya dan menolak. Karena prinsip gue makan jengkol itu lebih banyak mudhorotnya. Setelah berpikir panjang melewati batas angan akhirnya gue menerima ajakannya buat makan jengkol.
Ga lama kemudian kaka kelas gue itu masak itu jengkol. Masaknya di tumis gitu kan pake kecap, pake cabe, pake bawang, dan unsur2 lainnya. Dan baunya udah harum banget. Gue yakin dan percaya kalo jengkol dimasak model menurut gue ga bakalan bau. Akhirnya keraguan gue di dalam hati makan jengkol sirna seketika.
Gue lalu keluar dulu dari kosan itu karena ada urusan dan bilang ke kaka kelas gue itu,”ka kalo udah mateng bilang ya.” Dia yg beli, dia yg masak dan gue menyuruhnya dengan enaknya ga tau diri banget wkwk. Waktu pun berlalu. Lalu kaka kelas gue itu ngabarin bahwa jengkolnya udah mateng. Tanpa pikir panjang gue lalu meluncur buat makan. Pas gue sampe, kaka kelas gue itu langsung ngambilin masakan jengkolnya, nasinya juga diambilin. Like wife n husband huek huek. Lalu gue makan dengan lahapnya rasanya enak banget sampe melayang jauh terbang tinggi bersamaa mimpi pokoknya. Setelah itu gue pamit pulang dan ga lupa ngucapin terima kasih.
Pas diperjalanan pulang gue merasa terkena gejala kerasukan jengkol. Mulut gue rasamya ga enak dan ada aroma aroma irama gitu. Pas nyampe rumah gue berusaha menghapus sesuatu dari lidah ini. Akhirnya gue makan makanan yg menyengat dan kekamar mandi guna menghilangkan baunya. Pasta gigi, obat kumur udah dipake tapi ga mempan juga. Ada karbol kalo gue minum baunya ilang nyawa gue juga bakalan ilang. Akhirnya sangkin lelahnya gue lalu tidur.
Besoknya gue diprotes orang rumah gara2 kamar mandi bau jengkol. Jadinya gue bertanggung jawab buat ngilangin baunya. Setelah kamar mandi beres. Gue berangkat ke kampus. Waktu di kampus, mulut gue tetep terkontaminasi bau jengkol. Jadinya yg gue lakukan hanya merengut menghindari interaksi langsung sama orang. Gue lalu nyari minuman yg baunya nyengat akhirnya gue beli pop es rasa duren. Minumannya abis baunya tetep. Beberapa makanan mint dan aroma nyengat juga gue makan tapi ga ada ngaruhnya. Tibalah saat gue ngajar bocah. Pas ngajar mau ga mau kan gue harus ngomong. Karena bocah masih polos dia ngomong,”kaka bau jigong.” Dua temen cewe gue yg ngajar bareng gue denger lagi. Saat itu rasanya tuh gue bagai alien yg pengin balik ke planet gue berasal. Akhirnya sepanjang hari gue putus asa bawaannya.
Sehari kemudian mulut gue berangsur-angsur membaik. Mood gue pulih juga. Dan gue berkomitmen ga mau makan jengkol lagi kecuali kalo besoknya libur panjang. Itulah kisah gue mudah-mudahan bisa jadi pelajaran untuk kita semua. Semoga kedepannya jengkol bisa jadi komoditi utama jadinya bau jengkol dianggap Biasa aja wkwk.

Oleh : Dendy Harmadi

Upin dan Ipin

Upin dan Ipin saudara kembar yg serupa
Tingkahnya yg lucu membuat orang tertawa
Mereka hadir membawa kebahagiaan untuk kak Ros dan Nenek
Meski sering sekali kak Ros memarahinya, namun Upin dan Ipin tetap menggemaskan

Pin Upin, Pin Ipin itu lah panggilan kak Ros terhadap mereka
Ada apa kakak? Itulah yg sering diucapkan Upin dan Ipin setiap kali kak Ros memanggilnya
Bantu kakak, itulah yg biasa disuruh kak Ros terhadap mereka
Namun kadang mereka tidak mau melaksanakan apa yg disuruh kk Ros
Mereka lebih suka berkhayal ayam goreng makanan favoritnya

Kini Upin dan Ipin bukanlah tontonan anak kecil saja, melainkan tontonan anak dewasa juga
Karena ditontonan Upin dan Ipin mengandung banyak pesan moral
Pesan moral yg terselip ditingkah mereka berdua

Oleh : Wurry Aprianty

Air

Kau butuh air untuk hidup, butuh air untuk minum, butuh air untuk mencuci, butuh air untuk masak. Kau butuh air.

Kau mengeluarkan air saat buang air kecil, saat menangis, saat bersin. Kau mengeluarkan air.

Kau menginginkan air saat kemarau, untuk menumbuhi pepohonan. Kau menginginkan air saat gersang, agar debu tak berterbangan. Kau menginginkan air.

Tapi, kau hambat jalannya. Kau tuduh ia penyebab banjir. Kau jadikan air si pendosa pembawa petaka. Apa salah air ketika ia menghanyutkan sandalmu? Ia menjalankan mekanisme luar biasa atas perintah semesta hancurkan semua yang menghambat. Kau menghambat daerah resapannya, kau kotori dengan limbah dan kau jumawa bilang penyebab kerusakan adalah air bukan kau dan ketamakanmu!

Oleh : Dian Nurmala Ws

Negeri Hijrah

"Fathan," teguran lembut itu membuyarkn lamunan Fathan.
Ia menoleh. itu suara bunda yang sedaritadi sudah duduk disampingnya  dengan seutas senyum.    
"kok bengong? itu kamu dipanggil, sayang.."
"Fath, ayo buruan maju.." desak Ayah.
Fathan mengernyitkan dahi. tak mengerti. maju untuk apa.
"sekali lagi kami panggilkan saudara Fathan Syafi'i Albana sebagai mahasiswa lulusan terbaik tahun ini untuk maju ke atas panggung didampingi kedua orangtua" suara yang menggema ke penjuru ruangan menyentakan Fathan.
"a-a-aku?" terbata-bata Fathan  berucap.
dan tanpa buang waktu, ia gandeng ayah dan bunda untuk maju ke atas panggung.
Syukur tak henti ia panjatkan. Perjuangannya  menyelesaikan tugas akhirku yang penuh cucuran air mata dan.keringat membuahkan hasil.
hari ini, Fathan Syafi'i Albana  resmi menjadi alumnus kampusnya. ditambah bonus lulusan terbaik.
maka nikmat Tuhanmu yg manakah yg kamu dustakan?
***
sebulan sudah pasca wisuda itu. Fathan mengisi hari-harinya dengan menjadi penulis lepas di sebuah majalah islami terkemuka.
malam itu, ia baru saja merampungkan sebuah tulisan untuk kolom pendidikan ketika ayah mengetuk pintu kamarnya seraya berujar "Fath.. ayo lekas keluar.. "
biasanya ayah memanggilnya begitu karena ia belum makan. tapi Fathan baru saja makan malam setengah jam yang lalu.
Fathan pun membuka pintu kamar. begitu pintu kamar terkuak, didapatinya wajah sang ayah--yang tersirat bahagia terbalut kekhawatiran.
Belum sempat Fathan bertanya, Bunda memintanya ke ruang tamu.
di ruabg tamu keluarga Pak Rudi--Ayah FAthan--duduklah ayah dan Bunda Fathan.serta anak semata wayang mereka, FAthan.
"Tadi sore ada kiriman surat ini." Bunda mengangsurkan sepucuk amplop coklat bertemali.
Fathan menerimanya. disitu terdapat cap yg amat dikenalinya.
Dari kedubes Jepang.
Hati Fathan berdebar. perlahan ia buka surat itu. matanya menyapu kata demi kata yang tertulis.
Tak berapa lama, ia bersujud seraya melafadzkan Subhanallahu walhamdulillah wa laa illaha illallahu Allahu akbar!
Lalu didekapnya ayah dan bundanya.
"Yah.. Bun.. Fathan keterima kerja sambil kuliah di Todai Jepang.. alhamdulillah.." lirih suara Fathan. entah bagaimana ia harus melukiskan kebahagiannya kala itu.
"Selamat ya Nak.." suara Bunda terdengar serak.
Sedangkan ayah hanya diam membisu.

Fathan melepaskan dekapannya.
"Ayah dan Bunda kenapa?" tanyanya melihat gelagat tak wajar Ayah dan Bundanya.
"Kamu yakin akan mengambil kesempatan itu? Kamu bisa hidup sendiri di negeri orang?Kamu abak semata wayang di keluarga ini, kalau kamu pergi.." kata-kata Ayah menggantung.
"Ayah, Bunda.. Fathan sudah dewasa dan Fathan harus belajar mandiri dan tanggungjawab terhadap diri sendiri sebelum nanti Fathan menikah bertanggungjawab dgn anak orang. Fathan mencintai ayah bunda setulus hati. ingin Fathan di dekat ayah bunda selalu. tapi Fathan juga harus belajar pergi. bukan untuk meninggalkan ayah bunda selamanya. melainkan hanya sementara..." ada jeda sejenak. Fathan menatap ayah bundanya bergantian.
Bundanya tertunduk. Fathan genggam erat tangan ayah dan bundanya. "izinkan Fathan pergi untuk menempa diri Fathan. sedari kecil Fathan hidup ayah bunda sudah membekali Fathan dgn byk ilmu. Ayah ingat kn wkt kecil ngajarin Fathan jd pemberani. Bunda juga ingat kn Bunda sering bilang, lelaki itu harus bisa masak juga. Skrg saatnya Fathan menerapkannya..disana"
Perlahan, bunda mengangkat wajahnya. diusapnya air mata yg sempat luruh dri matanya.
Ayah, yang hanya bisa membendung air matanya, perlahan di wajahnya tersungging seutas senyum.
ia tepuk pundak pangeran kecilnya itu. "Setelah kamu berkata demikian, Ayah lega, Fath. InsyaAllah Ayah bisa melepasmu dengan ikhlas. pergilah, Nak, jemput janji kehidupan yang lebih baik di negeri sakura yang sudah kauimpikan sedari kecil.." tegas namun lembut suara Ayah.
"Bundapun demikian. rasanya baru kemarin Bunda menggendongmu pangeran kecil. sekarang kau sudah dewasa dan memang saatnya kau pergi merantau. Jika itu yg terbaik menurut Allah, hati Bunda tenang.." lirih suara Ibu namun teguh.
Untuk kedua kalinya di malam itu, Fathan mendekap erat dua malaikat tak bersayapnya. Setelah ia habiskan 22 tahun masa hidupnya di ibukota bersama keluarga kecilnya, kini ia harus bergegas menuju negeri hijrahnya.. negeri sakura yang diimpikannya sejak ia memasuki tahun pertama masa sekolah dasar.
"Ayah, Bunda, nanti kalau udah gede Fathan mau ke Jepang! Fathan mau ketemu Doraemon dan jadi Nobita tapi yang pintar!" ujar Fathan kecil kala itu.

Oleh : Vana Pinkerz

Kamis, 10 Desember 2015

Senyuman di Wajah Ayah

Pukul 07.55 a.m, jam tanganku menunjuk. Tak terasa, 5 menit lagi akan dilangsungkan prosesi pernikahan antara aku dan seorang pria yang sudah ku kenal selama 4 tahun terakhir. Rasa was-was bercampur haru dan bahagia memuncah di dalam sanubariku. Lisan ini tak sadar bergetar selalu melafadzkan do'a dan ayat-ayat suci berharap semoga Allah memberikan ketenangan hati dan kelancaran pada pernikahanku hari ini.
Tetapi, di tengah kebahagianku hari ini seketika terbesit wajah ayahku tercinta.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa ayah sudah meninggalkan ku dan ibuku selama 11 tahun. Senyumnya, candanya, pelukannya yang hangat, dan kasih sayangnya, semua masih terekam jelas di memoryku.
Andai saja ayah masih disini, tentu beliau lah yang akan menjabat tangan calon suamiku itu. Andai saja ayah masih disini, tentu beliau lah yang dengan suaranya yang lembut memberiku nasihat pernikahan. Mengenangnya, tak sadar air mata ini menetes. Ingin rasanya bicara pada ayah,
"Ayah, hari ini aku akan menikah dengan seorang pria yang insyaa Allah sama baiknya denganmu. Ayah apakah dirimu juga bahagia seperti aku dan ibu ? Ayah, aku rindu padamu sangat rindu. . Ayah, Semoga Allah selalu memberikan rahmat bagimu disana.

Tak sadar ku tenggelam dalam lamunan, Ibuku sudah berada di kamarku dan mengabarkan bahwa pernikahanku sudah sah dan calon suamiku mengucapkan ijab qabulnya dengan sangat lancar 1 nafas.
Alhamdulillaah. . rasa was-was, haru dan bahagia ku pecah, seketika aku menangis sujud syukur dan segera memeluk erat ibundaku. Ku lihat ibupun menangis haru pula.

Lalu, dengan langkah lembut ibu menggandeng tanganku untuk bertemu dengan pria yang sudah resmi menjadi suamiku. Perlahan aku menuruni anak tangga rumahku, seraya merunduk tersipu. Tiba-tiba dihadapanku ada seseorang yang menjulurkan tangannya. Ya dialah pria itu, suamiku. Untuk kali pertama ku menyentuh tangannya yang lembut dan dia tersenyum padaku. Ku sembunyikan wajahku agar tak nampak raut merah malu-malu. Diam-diam ku mencuri pandang kepadanya. Alangkah mengejutkan. . Ku temukan senyum ayah di dalam senyumannya. Hatiku seketika menjadi sangat tenang dan aku merasa yakin bahwa ayah pun bahagia sama seperti kami. . . Dan untuk pertama kali ku bergumam di dalam hati, "Aku sangat mencintaimu suamiku."

Oleh : Tiarha Hurul 'Ain

Tak Pernah Kembali

Lo pernah mikir gimana proses panjang membesarkan lo? Yup, lo tadinya nggak punya kekuatan hero jenis apapun. Jangankan terbang jalan saja lo nggak bisa. Sampai, dengan sabar luar biasa ibu dan bapak lo mengajarkan lo cara berdiri, bangkit dan berjalan.

Awalnya lo merengek tiap terjatuh, tapi mereka seperti sekomplotan juru sorak di lapangan hijau meneriaki lo "kamu bisa, kamu pasti bisa" yup langkah pertama lo. Mereka tersenyum paling bahagia. Bukan cuma lo yang senang diatas segalanya mereka yang paling bahagia.

Lalu, perlahan waktu terus mengerus kebersamaan. Menciptakan jarak. Lo membuat benteng pembatas. Teritori wilayah. Lo mulai nggak sopan teriak-teriak dari minta handphone sampai minta motor. Lo mulai memunggungi mereka. Seolah lo bisa jalan sendirian tanpa bantuan siapapun.

Setelah itu, ketika waktu akhrirnya menghabisi kebersamaan kalian. Orangtua lo wafat misalnya, lo akan seperti kucing kampung yang pulang dengan bercak darah perkelahian. Pulang tanpa daya upaya, mengeong lemas di depan gerbang. Tangis lo, air mata lo dan semua omongkosong lo tentang kasih sayang akan musnah nggak bersisa. Orang yang selalu menanti lo hingga detik jam terasa samar karena di sergap kantuk, orang yang selalu melebarkan tangannya dan siap mendekap lo, orang yang bahkan kalau disuruh mati demi lo dia rela. Sungguh, itu dekat sekali dengan lo emak-bapak lo.

Tapi, lo menyianyiakannya bukan? Ada 3 hal yang tak pernah kembali waktu, kesempatan dan orang yang menyayangi lo. Gue nggak akan ceramah panjang lebar tentang berbaktilah pada orangtua, tapi gue cuma mau bilang waktu nggak pernah mau menanti lo tobat dan berbalik.

Terus saja pungungi mereka hingga kelak lo sadar yang lo pungungi sudah tak lagi bernyawa. Terus saja sibuk dalam rutinitas omongkosong hingga kelak lo pahami bahwa yang sesungguhnya jadi prioritas sudah tak lagi ada. Terus saja bicara omongkosong tentang cinta kesiapa lah hingga akhirnya lo tahu pasti yang paling mencintai lo tak lagi berdiri tegap. Ia sudah pergi bersama gundukan tanah dan jutaan hari yang lo sia-siakan.

Oleh : Dian Nurmala Ws

Luruh

Bicara tentang waktu
Maka daun akan bercengkerama pada matahari
Yang menjadikannya pucuk di tajuk itu terus bertahan
Menghijau, perlahan menguning lalu kering

Bicara tentang waktu
Hari terhitung mundur
Menyapu pasir yang ikhlas melupakan jejakmu
Meniup angin yang pasrah menghilangkan gelombang suaramu

Bicara tentang waktu
Apakah kita akan melupakan awan?
Yang mencoba mencari hangatmu di waktu lalu
Namun, tetaplah waktu yang akan menang
Memutihkan semesta dan luruhkan awan hingga menjadi rinai

Bicara tentang waktu
Akar masih menjadi saksi
Memandangi apa yang terjadi tanpa harus muncul ke permukaan
Memandangi daun yang rela jatuh mengalah bersama musim
Memeluk pasir yang dihembus angin, juga
Menyambut rinai yang menghidupkan kembali pucuk

Waktu yang kian berubah tak kan mampu membuat akar berpindah
Ia tetap bersabar di dalam tanah tanpa ingin kau melihatnya
Selamanya ia akan memeluk apa yang jatuh
Bahkan, ketika yang terjatuh adalah senyummu

Oleh : Anisa Hamasah

Menikmati Waktu

pada memori masa silam.
Memori dimana baju putih abu-abu itu masih menempel ditubuhku.
Memori dimana waktu terasa begitu indah.

Berada ditengah tengah mereka, membawaku di waktu saat aku ada di posisi mereka. Dengan kepolosan dan sedikit kenakalannya, aku hanya bergumam dalam hati kecilku "seperti melihat film sendri".

Tiap waktu ku menemui mereka, tiap itu jg aku mengenang masa itu. Masa masa dimana masih ramai ku rasa persahabatan itu. Masa-masa dimana ku lewati waktu bersama-sama dengan sahabat2ku. Sahabat2 yg selalu mendukung dan mengajak ku utk terus memperbaiki diri, melakukan kebaikan bersama-sama. Sama seperti halnya mereka yg saat ini sedang menjalin kisah itu.

Ah, aku hanya bisa menikmati waktu.
Menikmati waktu yg tak lagi sama seperti dulu.
Semoga waktu yg ku nikmati saat ini, juga bisa dinikmati oleh dirimu, sahabatku..

Oleh : Nur Amalia Hasti

Dalam Detakku

/1/
Aku ingin menjadi jam,
di dinding kamarmu
yang menghitung senyummu,
dalam detakku.

Aku ingin menjadi detik,
di dalam hidupmu
yang kau pungut satu demi satu,
lalu kita jadikan sebuah karangan bunga.
-entah untuk mengantar kematianmu atau kematianku-

/2/
Entah karangan bungamu harus aku taruh di mana.
Liyangku telah sesak oleh doa dan tangismu.

Bunga kamboja telah berguguran,
seperti kenyataan yang menghilang pelan-pelan.
-sayang, aku tak bisa lagi menjagamu-

/3/
Sayang,
aku ingin mengutip sebuah syair untukmu;
"Yang fana adalah waktu, kita abadi."

Waktu tak abadi, ia berubah jadi perjalanan sebuah rindu. Terkadang ia lupa jalan pulang, karenanya kita menyebutnya sebagai kenangan.

Oleh : DTA

Menanti Jumpa

Detik demi detik berlalu tergerus oleh zaman. Sang waktu pun tiada berhenti berputar, tanpa jeda sepersekian detik pun.
Dalam rimba dunia, hiruk pikuk menyelubungiku. Menyuguhkan gelimang nikmat surgawi ala dunia. Menggoyahkan hati, mengusik nurani.
"Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir."
Kusadari diri yang rapuh ini belum sanggup menggapai puncak ketaatan pada-Nya, namun tahukah kau? Aku merasa terkungkung dalam penjara emas ini!
Keheningan itu hanya dapat kuraih tatkala ku bersimpuh pada-Mu terlebih di sepertiga malam-Mu..
selalu ku merintih.. melesatkan doa ke haribaan-Mu..
Betapa kerinduan ini bertumpuk-tumpuk dalam hati..
Betapa kerinduan ini menghujam dalam dada..
Betapa kerinduan ini akan selalu bersemayam dan menyatu dalam jiwa..
Ya sebuah kerinduan pada-Mu ya Allah..
Sungguh sangaaaat lama kurasa penantian ini.. Mengeja detik demi detik hingga tahun demi tahun..
Namun aku sadar aku harus sabar menanti momen terindah itu tiba,       seraya kuhimpun bekal terbaik untuk  kelak berjumpa dengan-Mu di surga firdaus-Mu bersama Kekasih-Mu..

Oleh : Vana Pingkerz

Sebuah Makna

Nafasnya terenggah-enggah, peluh kian menghiasi wajahnya yang semakin kusam,  sesekali ia seka diantara ribuan langkah kaki tanpa jeda. Memasuki sebuah tempat berisikan mobil dan bis yang terparkir atau hilir mudik keluar masuk ia tampak kebingungan mencari sesuatu,  sesekali ia melihat benda berwarna hitam yang melingkar di tangan kirinya. Kembali ia telusuri tempat yang amat ramai ini,  bebetapa kondektur menanyainya hendak kemana,  ia hanya geleng kepala. Seketika kakinya melangkah cepat,  Mengejar bis berwarna ungu yang telah melaju dihadapannya, ia lambaikan tangannya, namun bis itu tak jua terhenti, ia percepat larinya dengan penuh kegigihan meski kakinya terseok-seok menahan sakit dan perih. Ini belum seberapa dengan perih hati bertahun-tahun lamanya. Perjuangannya membuahkan hasil,  bis itu terhenti,  tepatnya karna mobil di depan bis itu berhenti. Akhirnya ia bisa menaiki bis yang akan membawanya pada kerinduannya selama ini tentang makna kasih dan sayang yang sudah lama terpendam.......... bersambung

Oleh : Huliyyatul Ashfia

Senyummu

Terajut sempurna, memunculkan kebahagian bagi siapa saja yang melihatnya, terlebih bagi kedua orang tua mu. Betapa tidak indah dipandang mata? seolah olah lesum pipit, rapat bibirmu dengan sedikit tersungging bersatu padu menyusun senyum indah mu itu..

Tak hanya itu, senyum mu tampilkan kepada kami ketulusan, kejujuran, keikhlasan, dan kebahagiaan.

Rasa-rasanya,, segala lelah bekerja siang malam, bangun tidur sampai tidur kembali mengurusimu tak terasakan lagi lelahnya, capeknya, penatnya.

Ingin ku, ingin kami. Senyum mu tak hanya hiasi hidup kami di dunia, akan tetapi sampai abadi di SurgaNya.

Pinta ku, pinta kami kepada Allah untuk mu, semoga selalu menjadi penyejuk mata dan hati kami.

Terima kasih anak ku, kami ucapkan..

Hadir mu, senyum mu sempurnakan hidup kami..

Oleh : Ahmad Zulfikar

Masa Kecil

Andai waktu dapat kembali
Aku ingin kembali kemasa kecil
Tanpa kebohongan
Tanpa kemunafikan
Seperti kertas putih tanpa goresan
Seperti memori yang begitu polos
Seperti kapas yang bergelayutan
Seperti embun diatas daun talas

Namun aku sadari masa kecilku tak dapat kembali
Ia akan menjadi kenangan dimasa lalu
Kenangan yg selalu aku ingat untuk selama-lamanya

Oleh : Wurry Aprianty

Pertemuan Dikala Itu

Pertemuan kita dikala itu ...
Tak lagi sama dimasa sekarang...
Waktu jam detik kala itu menjadi saksi bisu perbincangan dikala itu..
Sekarang perbincangan itu hanyalah angin lalu tak berbekas tak tersisa...

Waktu berjalan begitu cepat membuat jeda yang begitu panjang...

Masih ingat dikala itu kita masih manis bersua..
Masih terekam dikala itu kita bersemangat menyamakan perbedaan..

Namun seiring berjalan nya waktu...
Itu hanyalah menjadi masa lalu..masa yang teramat pahit bagiku...

Akankah nanti waktu akan merubahnya menjadi manis?
Entahlah...
Aku tak mau berharap..
Biarkanlah waktu berjalan begitu saja meninggalkan jejak yang tak lagi sama ...

Oleh : Nurlela

Mengingatmu

Saat dimana kita menjadi akrab
Hari dimana kita menjadi bahagia
Aku tanpa tujuan melihat pergelangan tanganku
Seolah engkau masih disana

Aku berusaha mengingat waktu
Meskipun hanya memandang semu dirimu
Kamu pemberiannya yang berharga
Tapiku tidak bisa menjagamu segenap hati

Ini bukan kenangan kita
Tapi ini cintaku
Dan kau kini pergi dariku
Bisakah kita kembali ?

Hatiku yang merindukanmu memintamu untuk kembali
Teringat suara detak detikmu yang hangat
Teringat pelukanku melingkar di pergelangan tangan ini
Biarkan seperti ini untuk sejenak

Meski hanya mengingatmu
Hatiku tersenyum bahagia
Kau berharga dan tak tergantikan
Jam tanganku yang hilang

Oleh : Dendy Harmadi

Demi Masa

Kakiku terasa ingin tumbang, dan peluhku mengucur deras diseluruh tubuh setelah beraktivitas seharian dan kini diakhiri dengan drama berlari mengejar commuter line yang akan membawaku meninggalkan Bogor, sang kota hujan ini. Untunglah masih ada tempat duduk yang tersisa. Ya, Allah memang baik sekali.

Dengan nafas yang masih tersenggal, ku buka note yg berisi 'to do list' ku hari ini. Waktu telah menunjukkan pukul 16.00 wib, dan menurut jadwal, aku masih harus memenuhi janji bertemu dengan beberapa kawan di UI 30 menit lagi. "Semoga lekas sampai" gumamku.

Tersadar akan tugas yang masih menumpuk, hafalan yang tertunda, dan amanah yg belum dirampungkan hari itu, aku pun menarik nafas dalam dalam.

Tak jarang aku berjika-jika tentang waktu. Berharap dalam satu hari tidak hanya 24 jam, namun lebih dari itu. Dan mungkin saja, diantara kalian ada juga yang sependapat denganku tentang hal ini. Ah, manusia memang tidak pernah ada puasnya..

Seringkali kita berpikir bahwa kita memiliki banyak waktu, hingga dengan mudahnya kita menunda, berjanji dan merencanakan banyak hal dengan yakin. Namun kenyataannya, waktu bukanlah milik kita. Ia adalah sumber daya yang sangat terbatas. Terus berkurang tanpa pernah bisa kita tawar.
Waktu yang kita miliki tentu saja berbeda beda. Usia setiap kita sudah digariskan dan tak pernah kita tahu kapan batas akhirnya. Maka, berhentilah berpikir bahwa kita masih punya banyak waktu karena sejatinya ia terus mengejar kita. Menjadi pacuan agar kita terus bergerak untuk tabungan akhirat.

Bahkan, Dia bersumpah atas nama waktu.
Ya, "Demi masa..."

Oleh : Nurul Inayah