Ketika kumulus luruh di kotamu
Menjatuhkan lembut ribuan harapan yang tak kan mampu kau hitung
Kuharap itu sampai padamu
Meski kau tengah berteduh
Ketika sirus tegak lurus dengan sungaimu
Angin tak lelah untuk datang
Membuat riak air yang mencipta gemercik sendu
Ketika kau membawa semua detik yang sejenak terhenti
Kau tetap berlari pergi bersama hari
Tahukah kau
Waktu tetap tak menentang takdirnya
Kemarau lalu telah berganti menjadi musim baru
Selamat datang gerimis
Selamat datang petrichor
Biarlah, puisi ini terangkum menjadi semesta doa
Biarlah, musimku tetap seiring dengan musimmu
Oleh : Anisa Hamasah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar