"Fathan," teguran lembut itu membuyarkn lamunan Fathan.
Ia menoleh. itu suara bunda yang sedaritadi sudah duduk disampingnya dengan seutas senyum.
"kok bengong? itu kamu dipanggil, sayang.."
"Fath, ayo buruan maju.." desak Ayah.
Fathan mengernyitkan dahi. tak mengerti. maju untuk apa.
"sekali lagi kami panggilkan saudara Fathan Syafi'i Albana sebagai mahasiswa lulusan terbaik tahun ini untuk maju ke atas panggung didampingi kedua orangtua" suara yang menggema ke penjuru ruangan menyentakan Fathan.
"a-a-aku?" terbata-bata Fathan berucap.
dan tanpa buang waktu, ia gandeng ayah dan bunda untuk maju ke atas panggung.
Syukur tak henti ia panjatkan. Perjuangannya menyelesaikan tugas akhirku yang penuh cucuran air mata dan.keringat membuahkan hasil.
hari ini, Fathan Syafi'i Albana resmi menjadi alumnus kampusnya. ditambah bonus lulusan terbaik.
maka nikmat Tuhanmu yg manakah yg kamu dustakan?
***
sebulan sudah pasca wisuda itu. Fathan mengisi hari-harinya dengan menjadi penulis lepas di sebuah majalah islami terkemuka.
malam itu, ia baru saja merampungkan sebuah tulisan untuk kolom pendidikan ketika ayah mengetuk pintu kamarnya seraya berujar "Fath.. ayo lekas keluar.. "
biasanya ayah memanggilnya begitu karena ia belum makan. tapi Fathan baru saja makan malam setengah jam yang lalu.
Fathan pun membuka pintu kamar. begitu pintu kamar terkuak, didapatinya wajah sang ayah--yang tersirat bahagia terbalut kekhawatiran.
Belum sempat Fathan bertanya, Bunda memintanya ke ruang tamu.
di ruabg tamu keluarga Pak Rudi--Ayah FAthan--duduklah ayah dan Bunda Fathan.serta anak semata wayang mereka, FAthan.
"Tadi sore ada kiriman surat ini." Bunda mengangsurkan sepucuk amplop coklat bertemali.
Fathan menerimanya. disitu terdapat cap yg amat dikenalinya.
Dari kedubes Jepang.
Hati Fathan berdebar. perlahan ia buka surat itu. matanya menyapu kata demi kata yang tertulis.
Tak berapa lama, ia bersujud seraya melafadzkan Subhanallahu walhamdulillah wa laa illaha illallahu Allahu akbar!
Lalu didekapnya ayah dan bundanya.
"Yah.. Bun.. Fathan keterima kerja sambil kuliah di Todai Jepang.. alhamdulillah.." lirih suara Fathan. entah bagaimana ia harus melukiskan kebahagiannya kala itu.
"Selamat ya Nak.." suara Bunda terdengar serak.
Sedangkan ayah hanya diam membisu.
Fathan melepaskan dekapannya.
"Ayah dan Bunda kenapa?" tanyanya melihat gelagat tak wajar Ayah dan Bundanya.
"Kamu yakin akan mengambil kesempatan itu? Kamu bisa hidup sendiri di negeri orang?Kamu abak semata wayang di keluarga ini, kalau kamu pergi.." kata-kata Ayah menggantung.
"Ayah, Bunda.. Fathan sudah dewasa dan Fathan harus belajar mandiri dan tanggungjawab terhadap diri sendiri sebelum nanti Fathan menikah bertanggungjawab dgn anak orang. Fathan mencintai ayah bunda setulus hati. ingin Fathan di dekat ayah bunda selalu. tapi Fathan juga harus belajar pergi. bukan untuk meninggalkan ayah bunda selamanya. melainkan hanya sementara..." ada jeda sejenak. Fathan menatap ayah bundanya bergantian.
Bundanya tertunduk. Fathan genggam erat tangan ayah dan bundanya. "izinkan Fathan pergi untuk menempa diri Fathan. sedari kecil Fathan hidup ayah bunda sudah membekali Fathan dgn byk ilmu. Ayah ingat kn wkt kecil ngajarin Fathan jd pemberani. Bunda juga ingat kn Bunda sering bilang, lelaki itu harus bisa masak juga. Skrg saatnya Fathan menerapkannya..disana"
Perlahan, bunda mengangkat wajahnya. diusapnya air mata yg sempat luruh dri matanya.
Ayah, yang hanya bisa membendung air matanya, perlahan di wajahnya tersungging seutas senyum.
ia tepuk pundak pangeran kecilnya itu. "Setelah kamu berkata demikian, Ayah lega, Fath. InsyaAllah Ayah bisa melepasmu dengan ikhlas. pergilah, Nak, jemput janji kehidupan yang lebih baik di negeri sakura yang sudah kauimpikan sedari kecil.." tegas namun lembut suara Ayah.
"Bundapun demikian. rasanya baru kemarin Bunda menggendongmu pangeran kecil. sekarang kau sudah dewasa dan memang saatnya kau pergi merantau. Jika itu yg terbaik menurut Allah, hati Bunda tenang.." lirih suara Ibu namun teguh.
Untuk kedua kalinya di malam itu, Fathan mendekap erat dua malaikat tak bersayapnya. Setelah ia habiskan 22 tahun masa hidupnya di ibukota bersama keluarga kecilnya, kini ia harus bergegas menuju negeri hijrahnya.. negeri sakura yang diimpikannya sejak ia memasuki tahun pertama masa sekolah dasar.
"Ayah, Bunda, nanti kalau udah gede Fathan mau ke Jepang! Fathan mau ketemu Doraemon dan jadi Nobita tapi yang pintar!" ujar Fathan kecil kala itu.
Oleh : Vana Pinkerz
Tidak ada komentar:
Posting Komentar