"Baru datang? Telat lagi?"
Setiap kali aku bertemu dengannya khususnya di senin pagi, kata itulah yang selalu terucap. Dengan senyumnya ia selalu membuat pertanyaan retoris itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.07, dengan jaket dan ransel yang masih melekat, tentu saja aku baru datang dan aku terlambat.
Aku tidak pernah menanggapi pertanyaan yang menyamar menjadi pernyataan itu. Aku selalu berlalu, menuju lapangan upacara, sebelum guru piket yang terkenal tak ramah kepada anak-anak yang datang terlambat itu menghukumku lagi.
Entah, sudah hampir enam bulan aku satu kelas dengannya, pertanyaannya selalu sama setiap pagi. -Baru datang? Telat lagi?-. Padahal ia tahu, rumahku tidak dekat, aku butuh satu jam perjalanan menggunakan angkot -itu bila tidak macat- untuk sampai ke sekolah.
Satu lagi yang kubenci selain pertanyaan retorisnya, yaitu senyumnya. Baik, masalahnya seperti ini, ia adalah Rose, wanita yang menurut sebagian besar murid laki-laki di sekolahku adalah siswi tercantik. Hal ini yang menjadi masalah terbesar, bukannya aku ke-ge-er-an karena senyumnya itu. Tapi aku hanya ABG yang baru mencari jati diri. Bisa runtuh perjuanganku selama dua tahun mencari jati diri di eskul ROHIS ini, bila setiap pagi senyummu yang selalu menyambutku.
-Bersambung
Aku Selalu Membenci Senyummu
-khususnya di hari Senin- II
Sebetulnya, aku ingin sekali menjelaskan, tentang kedatanganku ke sekolah yang suka terlambat. Pertanyaannya -Baru datang? Telat lagi?- itu, membuat aku merasa terintimidasi. Ditambah lagi senyumnya, sungguh aku merasa menjadi seorang pesakitan yang sedang diintrograsi oleh reserse kelas atas. Pertanyaannya itu seakan menyiratkan pesan. Ehm, begini anak ROHIS toh, datang telat, pemalas, tidak on time.
Andai ia tahu perjuanganku untuk sampai ke sekolah. Mungkin ia akan berpikir beberapa kali untuk bertanya, -Baru datang? Telat lagi?-.
Kurasa saat ia masih tertidur, aku sudah sibuk dengan rutinitasku. Jam 04.15 pagi aku sudah harus bangun untuk melaksanakan sholat subuh, setelah itu aku harus merapihkan rumah, entah harus menyapu, mengepel, bahkan menjemur pakain. Belum lagi bila harus mengantri menggunakan kamar mandi dengan saudara-saudaraku, akan menghabiskan banyak waktu tentunya.
Ia pun tak akan tahu, perjalanan 20 menitku untuk sampai ke tempat mencari angkot. Ia pun tak akan tahu, perjalanan saat sudah di angkot, mulai dari angkot yang ngetem, macet saat melewati pasar, sampai bila harus berganti angkot karena mogok.
Terkadang aku ingin sekali menjelaskan semua itu kepadanya. Tapi, kupikir penjelaskanku pun tak ada artinya, aku sudah terlanjur dicap pesakitan dimatanya.
~~~
Malam itu, ia menelpon aku. Ibuku yang mengangkat telponnya. Ibu memberi tahu aku.
"Mas Arif, tadi ada telpon."
"Siapa bu?"
"Rose, katanya kamu disuruh telpon balik. Udah tiga kali nelpon tadi dia."
"Iya, bu. Nanti aku telpon balik."
Ehm, enak betul wanita itu. Ia yang butuh kenapa harus aku yang repot? Ah sudahlah, mungkin ini saatnya aku menjelaskan semuanya kepada reserse itu.
Aku pun menelponya, bukan bunyi tut...tut... yang menyapaku. Tapi ring back tone lagu dari Secondhand Serenade, yang berjudul Fall For You. Lama kunenanti jawabnya, mungkin sudah dua kali reff lagu ini kudengar.
"Because the night will be the night, that I will fall for you....."
Akhirnya ia mengangkat. Seperti seorang tersangka tak bersalah, aku pun sudah menyiapkan semua pembelaanku, bahwa aku tak seperti yang ia sangkakan.
"Halo.. assalamualaikum." Suaranya dari balik telpon.
"Walaikummussalam." Jawabku singkat padat dan meyakinkan.
"Rif, buku catatan Bahasa Indonesiaku, kebawa kamu?"
"Tidak."
"Oh. Makasih ya."
"Rose..."
tut...tut...tut...
Apa-apan ini, ia menutup telpon begitu saja. Padahal aku belum selesai bicara. Masih banyak hal yang ingin kujelaskan.
#JagaSenyummu
#FallForYou Secondhand Serenade
Oleh : DTA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar