Aku sangat mencintai seseorang. Aku tidak pernah bilang cinta kepadanya. Tapi aku tahu kalau dia sangat mencintaiku dan aku pun juga merasakan hal yang sama.
Bahkan, aku merasa jika rasa sayangnya kepadaku jauh lebih besar daripada rasa sayang aku kepadanya. Tapi aku sering sekali mengecewakannya. Dia seringkali sedih, kecewa, dan marah atas apa yang telah aku perbuat. Dia tidak pernah sekalipun berkata,”kamu sangat mengecewakan.” Iya, dia selalu memberikan semangat dalam kondisi apapun.
Dia orang yang teramat memahamiku. Dia tahu benar bagaimana caranya mencintaiku dalam porsi yang pas tidak pernah kurang kadang seringkali berlebih.
Tapi, aku seringkali kesal terhadapnya. Karena aku merasa kalau dia terlalu banyak memberi aturan dan aku harus menuruti aturannya. Lama kelamaan aku pun mengerti. Dia melakukan ini semua karena dia sayang kepadaku dan ingin agar aku tidak jatuh dan terpuruk.
Dia tak pernah meminta apapun dariku. Dia hanya ingin agar aku bahagia. Begitu besar rasa cintanya membuat aku kadang sulit untuk mengerti betapa luar biasa ketulusan hatinya. Aku semakin sadar bahwa diriku sama sekali belum dapat membalas cintanya dengan sebanding.
Aku belum belum dapat mencintainya dengan tulus seperti dia mencintaiku selama ini. Mengapa aku bisa mencintainya adalah pertanyaan yang tidak sebanding dengan pertanyaan,”mengapa dia bisa begitu mencintaiku yang tidak pernah memberikan apa-apa?.”
Siapakah orang yang aku ceritakan tadi? Dia adalah mama. Mama mencintai aku karena aku adalah anak mama. Mama yang berhasil membesarkan aku. Mama yang sangat berarti dan paling penting dalam hidupku. Mama, aku mencintaimu.
Tulisan ini terinspirasi dari lagu Maher Zain – Number One For Me
Oleh : Dendy Harmadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar