Kamis, 24 Desember 2015

Ingatan Ketika Itu

Ketika kamu bahagia kamu menyukai iramanya, ketika kamu sedih kamu memahami liriknya. Barangkali ya. Tiga tahun berlalu, lagu yang sama yang selalu jadi peneman matahari terbit hingga terbenam di ruang kerja Sony. Sony tak benar-benar menyukai iramanya tapi liriknya.

Barangkali ya, tidak semua luka bisa dihapus oleh waktu seperti tidak semua rasa sakit harus dituntaskan dengan rokok atau minuman keras. Sony tahu, bahkan sejak tiga tahun lalu tak ada lagi yang sama buatnya. Hari-harinya hanya sebatas sarapan pagi di rumah, berangkat pagi-pagi ke kantor dan pulang larut.

Sony tahu semua demi membunuh rasa sakit yang satu dua kali menikam tajam, menelikung segalanya. Apalagi, semenjak facebook ikut-ikutan mengingatkan memori itu. Memori yang kalau saja Sony boleh meminta agar tak pernah terekam dalam otaknya.

🐛🐛🐛

Namanya Sekar, teman kanak-kanak hingga beranjak dewasa bersama. Sekar yang naif. Jika, dua orang baik-baik saja setelah berpisah barangkali tak pernah ada cinta diantara keduanya atau masih ada cinta. Sekar yang lugu, yang bilang baik-baik saja meski matanya sembab. Ini bukan salah Sekar, bukan salah siapapun. Ini salah Sony. Si brengsek dan idiot yang menyakiti banyak orang.

Sekar yang menemaninya hingga tiba di puncak. Melengkapi pemandangan indah yang selalu ingin Sony lihat. Sekar yang selalu bilang bahwa Sony bisa melakukan lebih baik lebih banyak. Sekar yang selalu menuntutnya hingga seluruh tenaga ia kerahkan. Sekarnya.

Siang itu, Sony merasakan bahwa neuronnya mulai rusak. Berjalan sendirian di Senayan City tiba-tiba saja membuatnya mengingat tentang Sekar.

Dunia seolah dingin padanya, dunia seperti mengucilkannya. Jika saja boleh jijik maka Sony teramat jijik pada dirinya. Si pendosa nomor satu, setelah seluruh kebaikan sekar.

Ia mencampakkan wanitanya. Hanya karena ambisinya. Hanya demi keturunan yang selalu saja disebut-sebut dalam doanya dan tak kuasa Sekar berikan ke dunia. Ia benci nasibnya, benci dirinya.

Tiga tahun yang panjang dengan banyak luka disekujur tubuh. Sony berusaha tak pernah balik badan bukan karena tak ingin tapi tak kuasa melawan segalanya. Melawan mata sembab ibu dan bapak Sekar saat ia menceraikan Sekar. Melawan mata tajam ibu dan bapaknya karena ia menceraikan Sekar.

Sony memutuskan seluruhnya hubungan dengan siapapun yang berkaitan dengan Sekar. Karena Sekar tak boleh kembali kepada pecundang sepertinya.

Lalu lirik lagu itu hari ini dan setelah tiga tahun selalu saja menggenapi sepinya. Apakah ia harus kembali dan berlari lagi ke wanitanya, apakah maafnya akan menghapus seluruh kekejaman kata-kata yang terlanjur ia ucapkan? Apakah mereka bisa sama lagi?

Sony membuang semua pikiran itu. Tidak, tidak ada yang pernah sama karena rasa sakit akan mengubah Sekarnya.

~ and I remember all those crazy things you said you left them running through my head you're always there, you're everywhere but right now I wish you were here.~ (Avril Lavigne i wish you were here)

🐚🐚🐚

Tidak ada yang baik-baik saja , bahkan setelah hari-hari berlalu. Tidak ada yang pernah sama bahkan setelah semuanya selesai. Siang itu, waktu Sony bilang kalau kami harus bercerai. Saya tidak ingin mengiyakan, bukan karena ketamakan saya tapi karena mungkin saja Sony sedang lupa tentang hari-hari berat yang kita lalui bersama. Tentang masa-masa sulit milik kami.

Tapi, kesadaran itu menerabas masuk. Saya selalu bertanya dalam tiap sujud malam saya, Tuhan kurang saya hanya tidak bisa memberi keturunan. Lantas kalau saya tidak bisa mengelak ketentuanmu tak perduli pil pahit sebanyak apa yang saya telan, apakah saya boleh dianggap bukan makhluk hidup? Karena kata Sony ciri makhluk hidup itu melahirkan dan saya bahkan hingga ribuan tahun tak akan pernah bisa melahirkan.

Saya perempuan dan saya tidak akan pernah menjadi seutuhnya perempuan. Dulu saya kira, saya perempuan paling beruntung mendapatkan Sony yang baik. Saya keliru Sony yang tidak pernah beruntung mendapatkan saya.

Saya boleh marahkan Tuhan? Marah pada tatapan sinis orang-orang karena saya janda. Kalau saja boleh memilih saya tidak ingin menyandang gelar ini. Tapi, buat apa dilanjutkan kalau salah satu pihak keberatan. Saya boleh bencikan Tuhan? Benci pada kalimat-kalimat menyalahkan. Siapa sih yang mau terlahir tidak sempurna. Maksudnya begini, saya memang lengkap secara fisik bukan disable tetapi kenyataannya rahim saya yang tak lengkap. Rahim saya yang cuma sekedar pelengkap tak akan pernah disinggahi fetus/janin.

"Kita tetap bisa berteman, kamu tetap boleh mampir kerumah saya. Bertemu ibu dan bapak. Mereka pasti mengerti keputusan mas." Ucap saya tiga tahun lalu dengan suara parau, berusaha sekuat tenaga menahan tangis.
"nggak setelahnya kita nggak bisa bertemu. Saya akan mulai hidup baru. Saya akan punya istri dan anak-anak mereka akan terganggu kalau saya masih berhubungan sama kamu."

Jawaban Sony yang dingin telak menghantam hati saya. Saya pikir semua orang boleh saja melabeli saya "mandul" selama Sony tetap disisi dan menguatkan, saya tak perduli. Biarlah kami menua begini. Sony saja cukup. Tapi, benteng terakhir saya justru ikut serta menyoraki kekurangan saya. 7 tahun kami menikah dan Sony pasti memang sudah tak sanggup membuang waktu dengan perempuan mandul.

Tiga tahun berlalu. Ada orang-orang yang hanya berhak hadir dihidup kita tidak menetap. Barangkali Sony salah satunya.

Diiringi lagu dari playlist handphonenya Sekar melangkah keluar dari Senayan City. Ini kali terakhir Sekar mengingat tempat dimana Sony melamarnya. Kali terakhir Sekar berjalan masuk ke labirin yang sama. Sekar sudah terlalu lelah, ia berjanji tak akan kembali ke tempat yang sama, ia akan keluar dari labirin ini. Apa Sekar marah terhadap Sony? Tentu saja, setelah semuanya berakhir dan ia tak menuntut apapun, tapi Sony dengan tega bilang bahwa Sekar mungkin saja merusak keluarga baru Sony. Tapi hari ini, sekar  memutuskan untuk memaafkan Sony memaafkan dirinya yang tak akan pernah sempurna. Sony berhak bahagia dengan seorang perempuan yang bisa memberinya keturunan bahkan kultur sosial sakit jiwa ini mendukung Sony dan menyalahkan Sekar. Apalagi yang bisa si perempuan mandul perbuat?

Menikah lagi, Sekar membenci institusi omongkosong itu. Bukan karena ia telah dikecewakan tapi karena institusi itu tidak melindunginya dari kemungkinan menyakitkan seperti pemberian dua label sekaligus "janda menyedihkan yang diceraikan karena mandul"

That was then, now it's the end
I'm not coming back, i can't pretend remember when.

(Avril Lavigne ~remember when)

Oleh : Dian Nurmala Ws

Tidak ada komentar:

Posting Komentar