"Yank.. kita putus aja ya!" seru wanita berambut ikal kecokelatan yg duduk tepat disampingku. wanita yg 6 bln terakhir ini kutitipkan hatiku padanya. wanita yang melekat di hatiku, terpatri di ingatanku, kapanpun dan dimanapun.
ya, dialah Selly kekasihku.
demi mndengar ucapannya, hatiku bagaikan dipukul palu godam.
"Yaelah, Yank.. ini bukan April Mop. dn aku jg lg nggak ultah. atau jangan-jangan kamu lagi ikut reality show yang ngerjain orang itu ya?" cecarku. "mana kameranya?" kulongokkan kepala ke kanan dan kiri mencari sebentuk benda bernama kamera yang kerapkali digunakan di syuting film.
Plak!
Itu bukan suara tanganku yang sering menepuk nyamuk. melainkan itu suara tangan wanitaku tercinta yang mendarat tepat di pipi kiriku. Aku terhenyak. Hening menyelimuti beberapa jenak sebelum akhirnya ia memekik, "Renov, mulai sekarang gue bukan lagi pacar lo! Lupakan angan-angan lo untuk nikahin gue yang cuma omong kosong!"
setelah itu ia berlalu. meninggalkanki yang masih terpaku. bungkam dengan tatapan kosong.
***
sudah seminggu belakangan ini aku lebih banyak menghabiskan waktu dirumah.
Seisi rumah gempar dengan perubahan sikapku. terlebih kakakku semata wayang, Bang Devon. hampir tiap hari ia mengetuk pintu kamarku untuk menanyakan bermacam hal.
Ya memang aku merasa terjadi. perubahan drastis dalam diriku. biasanya setiap kali putus dengan seorang wanita, aku akan dengan mudah melupakan.
namun untuk Selly, wanitaku yang satu ini tampaknya aku merasa sudah sangat jatuh cinta.
Bahkan aku sudah berniat menjadikannya istri di masa depan. kami sudah beberapa kali membicarakan ini. Tapi kenapa ia tega meninggalkanku?. Kulempar bantal dan gulingku. Aku marah atas apa yang terjadi padaku.
Kukenakan jaket dan celana panjangku. aku harus pergi menumpahkan amarahku. entah kemana.
Untung saja rumah sepi. aku bisa bebas pergi tanpa perlu repot izin.
"Nov, mau kemana kamu?!" seru sebuah suara tepat saat sebuah tangan menepuk pundakku.
aku menoleh. Aish! Dugaanku meleset. Rupanya kakakku ada dirumah.
"Pergi." jawabku singkat.
"Ya.silakan pergi. Asal sebelumnya kamu katakan apa yang terjadi padamu seminggu belakangan ini." Ujar Bang Devon. "Ayo duduk" ia gandeng tanganku ke sofa ruang tamu. seperti saat masa kecil kami, ia menggandengku ketika dulu aku enggan pulang ke rumah karena keasyikan main. Dan sama pula saat belasan tahun.silam itu, aku menurut saja.
"Aku putus dengan Selly." suaraku tercekat.
"Apa alasannya?" tanya Bang Devon.
Dan kronologis kandasnya tali kasihku dengan Selly pun mengalir lancar dari mulutku.
Abangku itu menyimak saksama.
"Berhentilah jatuh cinta, Nov.." tukas Bang Devon membuatku menyipitkan mata keheranan.
"Maksud Abang?"
"Abang kan dari dulu sudah pernah.bilang.." ucapan Bang Devon menggantung di udara.
Ingatanku melayang ke dua tahun silam. pertama kalinya aku memulai petualanganku di ranah pacaran. terhitung sampai kini aku sudah.punya 10 mantan pacar.
Sejak dulu Bang Devon tak pernah secara langsung melarangku pacaran. tapi aku baru sadar itu semua tersirat dari gelagat dan tingkah lakunya, terwakilkan oleh ekspresi wajahnya dan tutur katanya.
Tetiba aku merasakan sebentuk perasaan haru. trenyuh. atau apalah itu namanya. Kupeluk abangku itu.
"Bang.. Renov ingin berhenti jatuh cinta.. bimbing Renov untuk membangun cinta kepada Allah.. dan agar kelak Renov bisa membangun cinta dengan kekasih halal. Maafin Renov yang selama ini kurang peka. Dan bahkan pura-pura nggak peka." lirih diiringi isak suaraku.
Bang Devon balas memelukku.
"InsyaAllah kita berikhtiar bersama ya.." balas Bang Devon dengan suaranya yang tenang.
Tak terperi rasa syukurku pada Allah, telah menitipkan seorang kakak yang tak hentinya mengingatkanku.
Allah.. izinkanku membangun cinta bersama-Mu.
Palingkanku dari gejoak cinta yang tak terpeluk oleh-Mu.
ya, dialah Selly kekasihku.
demi mndengar ucapannya, hatiku bagaikan dipukul palu godam.
"Yaelah, Yank.. ini bukan April Mop. dn aku jg lg nggak ultah. atau jangan-jangan kamu lagi ikut reality show yang ngerjain orang itu ya?" cecarku. "mana kameranya?" kulongokkan kepala ke kanan dan kiri mencari sebentuk benda bernama kamera yang kerapkali digunakan di syuting film.
Plak!
Itu bukan suara tanganku yang sering menepuk nyamuk. melainkan itu suara tangan wanitaku tercinta yang mendarat tepat di pipi kiriku. Aku terhenyak. Hening menyelimuti beberapa jenak sebelum akhirnya ia memekik, "Renov, mulai sekarang gue bukan lagi pacar lo! Lupakan angan-angan lo untuk nikahin gue yang cuma omong kosong!"
setelah itu ia berlalu. meninggalkanki yang masih terpaku. bungkam dengan tatapan kosong.
***
sudah seminggu belakangan ini aku lebih banyak menghabiskan waktu dirumah.
Seisi rumah gempar dengan perubahan sikapku. terlebih kakakku semata wayang, Bang Devon. hampir tiap hari ia mengetuk pintu kamarku untuk menanyakan bermacam hal.
Ya memang aku merasa terjadi. perubahan drastis dalam diriku. biasanya setiap kali putus dengan seorang wanita, aku akan dengan mudah melupakan.
namun untuk Selly, wanitaku yang satu ini tampaknya aku merasa sudah sangat jatuh cinta.
Bahkan aku sudah berniat menjadikannya istri di masa depan. kami sudah beberapa kali membicarakan ini. Tapi kenapa ia tega meninggalkanku?. Kulempar bantal dan gulingku. Aku marah atas apa yang terjadi padaku.
Kukenakan jaket dan celana panjangku. aku harus pergi menumpahkan amarahku. entah kemana.
Untung saja rumah sepi. aku bisa bebas pergi tanpa perlu repot izin.
"Nov, mau kemana kamu?!" seru sebuah suara tepat saat sebuah tangan menepuk pundakku.
aku menoleh. Aish! Dugaanku meleset. Rupanya kakakku ada dirumah.
"Pergi." jawabku singkat.
"Ya.silakan pergi. Asal sebelumnya kamu katakan apa yang terjadi padamu seminggu belakangan ini." Ujar Bang Devon. "Ayo duduk" ia gandeng tanganku ke sofa ruang tamu. seperti saat masa kecil kami, ia menggandengku ketika dulu aku enggan pulang ke rumah karena keasyikan main. Dan sama pula saat belasan tahun.silam itu, aku menurut saja.
"Aku putus dengan Selly." suaraku tercekat.
"Apa alasannya?" tanya Bang Devon.
Dan kronologis kandasnya tali kasihku dengan Selly pun mengalir lancar dari mulutku.
Abangku itu menyimak saksama.
"Berhentilah jatuh cinta, Nov.." tukas Bang Devon membuatku menyipitkan mata keheranan.
"Maksud Abang?"
"Abang kan dari dulu sudah pernah.bilang.." ucapan Bang Devon menggantung di udara.
Ingatanku melayang ke dua tahun silam. pertama kalinya aku memulai petualanganku di ranah pacaran. terhitung sampai kini aku sudah.punya 10 mantan pacar.
Sejak dulu Bang Devon tak pernah secara langsung melarangku pacaran. tapi aku baru sadar itu semua tersirat dari gelagat dan tingkah lakunya, terwakilkan oleh ekspresi wajahnya dan tutur katanya.
Tetiba aku merasakan sebentuk perasaan haru. trenyuh. atau apalah itu namanya. Kupeluk abangku itu.
"Bang.. Renov ingin berhenti jatuh cinta.. bimbing Renov untuk membangun cinta kepada Allah.. dan agar kelak Renov bisa membangun cinta dengan kekasih halal. Maafin Renov yang selama ini kurang peka. Dan bahkan pura-pura nggak peka." lirih diiringi isak suaraku.
Bang Devon balas memelukku.
"InsyaAllah kita berikhtiar bersama ya.." balas Bang Devon dengan suaranya yang tenang.
Tak terperi rasa syukurku pada Allah, telah menitipkan seorang kakak yang tak hentinya mengingatkanku.
Allah.. izinkanku membangun cinta bersama-Mu.
Palingkanku dari gejoak cinta yang tak terpeluk oleh-Mu.
#Jangan Jatuh Cinta by Maidany
Oleh : Vana Pingkerz
Tidak ada komentar:
Posting Komentar